Selama beberapa menit awal di dalam studio, saya sempat curiga, “Jangan-jangan bukannya Trinity Traveler, yang diputar yaitu Trinity, The Nekad Traveler (2017)”. Judulnya seperti, begitu pula posternya, dan meski jarang, kesalahan pemutaran film pernah beberapa kali terjadi. Alasan kecurigaan itu alasannya adalah selama sekitar 15 menit pertama, tepatnya sebelum sang protagonis melanjutkan S2 ke Filipina, adaptasi jilid kedua buku The Naked Traveler karya Trinity ini menampilkan banyak adegan film pertama.
Lagi-lagi masalah serupa bukan terjadi kali ini saja. Banyak film memakai footage film usang, entah didaur ulang atau sekadar dipasang apa adanya. Beberapa juga melakukannya dengan alasan menambal durasi, alasannya bahan yang diambil tidak cukup untuk melahirkan sebuah film panjang, contohnya The Hills Have Eyes Part II (1984) garapan Wes Craven, yang dikenal sebagai film pertama dengan adegan flashback seekor anjing. Trinity Traveler rasanya tidak jauh beda, meski kuantitas “flashback” miliknya agak keterlaluan, mengisi hampir sekitar 50% 15 menit awal.
Tapi aku yakin banyak dari penonton tidak menyadari itu. Karena walau tak pantas disebut jelek, film pertamanya begitu mudah terlupakan. Kali ini situasinya sama saja. Trinity Traveler ialah acara jalan-jalan forgettable yang bahkan tak elok guna membuat penonton ingat destinasi mana saja yang disambangi karakternya. Padahal terselip pesan dengan relevansi tinggi ihwal kebebasan, khususnya terkait tuntutan sosial untuk menikah.
Buku pertama Trinity (Maudy Ayunda) sukses menjadi bestseller, tulisannya di blog makin kuat, tawaran endorse terus mengalir, namun itu dianggap kurang oleh ayahnya (Farhan), yang meyakini puteri sulungnya itu tidak senang akhir belum menikah. “Nanti suamimu yang memenuhi semua keinginanmu”, begitu kata sang ayah menyikapi bucket list Trinity. Di acara syukuran atas keberhasilan Trinity menerima beasiswa S2 pun, keluarga besarnya enggan menganggap itu prestasi, dan justru mengungkit status lajangnya.
Trinity enggan mengesampingkan kebebasan, namun sejatinya beliau merenungkan tuntutan tersebut, apalagi pasca terjadinya suatu peristiwa, yang kehilangan imbas emosinya akhir kesembronoan filmnya menabrakkan paksa momen dramatis dengan kekonyolan. Ada perbedaan antara menanggapi murung secara nyata dan kejomplangan tone rasa. Trinity Traveler termasuk kategori kedua.
Lalu nasib mempertemukan Trinity kembali dengan Paul (Hamish Daud Wyllie), fotografer sekaligus satu-satunya laki-laki yang bisa menggetarkan hati sekeras batu Trinity. Sempat ragu akan ketulusan Paul, apalagi ditambah komentar negatif sang sepupu, Ezra (Babe Cabita), keinginan membahagiakan orang tua pula dukungan kedua sahabatnya, Yasmin (Rachel Amanda) dan Nina (Anggika Bolsterli), Trinity kesudahannya bersedia memacari Paul. Awalnya mereka selalu menghabiskan waktu bersama, mengunjungi banyak lokasi berdua dalam rangkaian acara travelling yang dikemas pengadeganan ala vlog jalan-jalan oleh sutradara Rizal Mantovani dan sinematografi Ryan Purwoko (Dear Nathan, Dilan 1990, My Stupid Boss 2) yang layak dipandang namun tak cukup elok untuk mensugesti. Tapi hasilnya persoalan mulai hadir.
Kesibukan masing-masing menghalangi ketersediaan waktu pun kesetiaan Paul mulai dipertanyakan, yang turut memberi distraksi pada Trinity sehingga mempengaruhi pekerjaannya. Kualitas tulisan menurun, pun deadline dari klien kerap gagal dipenuhi. Hamish punya cukup kharisma semoga terlihat meyakinkan sebagai pria ganteng dengan senyum serta gombalan yang bisa mencuri hati Trinity, dan Maudy Ayunda terbukti mampu menciptakan solo travelling tampak menghibur, namun keduanya tak punya cukup chemistry biar bisa menularkan getar-getar cinta mereka ke penonton.
Setidaknya jajaran pemain film pendukung punya cukup daya untuk menghadirkan tawa. Trio Babe Cabita, Anggika Bolsterli, dan Rachel Amanda adalah kombinasi yang akan menciptakan anda berharap mereka punya porsi sebanyak film pertama. Sebagaimana sekelompok mitra lama yang sudah saling kenal baik, ketiganya saling melempar selorohan, menambah dinamika yang memang filmnya butuhkan. Sedangkan Cut Mini sebagai ibunda Trinity, walau muncul tak seberapa sering, menghembuskan sedikit kehangatan di tengah paparan dramanya.
“Berbuat oke, maka kau bakal menerima kesudahannya”, “Berbahagialah”, sampai “Jangan takut menjalani hidup secara bebas” adalah beberapa pesan yang coba diutarakan dalam naskah buatan Rahabi Mandra yang juga menulis naskah film pertamanya, tapi pesan-pesan tersebut tetap bisa tersampaikan andai Trinity tidak melakoni perjalanan sekalipun. Akhirnya Trinity Traveler hanyalah jalan-jalan menyenangkan yang kurang berkesan apalagi bermakna, walau aku mengapresiasi bagaimana filmnya tak menyudutkan salah satu pihak terkait tuturan perihal kebahagiaan dan kebebasan.



Post a Comment
Post a Comment