Knives Out yang ditulis sekaligus disutradarai oleh Rian Johnson (Looper, Star Wars: The Last Jedi) menawarkan mengapa acara kumpul keluarga adalah latar sempurna bagi menu whodunit. Serupa seorang tersangka dalam cerita misteri pembunuhan yang berlagak polos semoga tak mengungkap identitasnya sebagai pembunuh, anggota keluarga senantiasa bertingkah ramah, mengeluarkan tutur kata bagus, padahal membisu-membisu memendam kebencian bahkan saling menusuk dari belakang.
Di rumah glamor yang didekorasi sedemikian menawan sampai ke detail terkecil oleh tim artistic filmnya, termasuk singgasana berhiaskan puluhan pisau dan belati ala Game of Thrones, seorang penulis novel kriminal ternama, Harlan Thrombey (Christopher Plummer) merayakan ulang tahunnya yang ke-85. Anak-anak, menantu, cucu, sampai sang ibu yang sudah pikun alasannya dimakan usia, berkumpul. Mereka tampak berbahagia. Masalahnya, seperti diungkap di adegan pembuka, Harlan ditemukan tewas akibat luka sayatan pisau di leher.
Para keluarga serta pihak kepolisian meyakini itu adalah kasus bunuh diri, kemudian hadirlah Benoit Blanc (Daniel Craig), seorang detektif swasta yang disewa oleh orang tak dikenal guna menyelidiki kasus tersebut. Blanc mencium ketidakberesan di sana. Selepas dilakukan interogasi, rupanya hampir tiap anggota keluarga mempunyai persoalan dengan Harlan, sehingga punya cukup motif untuk menghabisi nyawa kepala Keluarga Thrombey.
Di luar internal keluarga, ada juga Marta Cabrera (Ana de Armas), perawat sekaligus sosok yang punya kekerabatan paling bersahabat dengan Harlan, lebih akrab dibanding anak-cucunya sendiri. Semua orang memperlakukan Marta dengan baik, menganggapnya seperti bab keluarga. Marta punya sebuah kondisi aneh yang tidak mampu aku sebutkan, tapi kondisi itu nantinya amat memiliki kegunaan, baik untuk proses investigasi maupun memancing tawa. Marta sendiri merupakan puteri seorang imigran ilegal. Dari mana ibunya berasal? Kita tidak pernah tahu niscaya.
Sebab tiap karakter melontarkan nama negara Amerika Latin yang berbeda. Ekuador pertama kali disebut, menyusul Paraguay, Uruguay, hingga Brazil. Hal itu yakni cara menggelitik dari Rian Johnson sebagai pemaparan subtil atas subteks filmnya. Di mata huruf-karakternya, semua negara itu sama saja, sebagaimana stereotip banyak pihak terhadap Asia atau Afrika, atau lebih tepatnya bagaimana orang Amerika memandang negara gila.
Secara luas, Knives Out bicara tentang rasisme, tapi di konteks lebih spesifik, filmnya menyentil info tentang imigran. Begitu alurnya melangkah jauh, dinamika Keluarga Thrombey mulai mencerminkan ketakutan sebagian warga Amerika bahwa imigran tiba guna mencuri kekayaan juga menjajah tanah mereka, membentuk satir sosial di dalam misteri pembunuhan. Jangan khawatir filmnya jadi terlalu politis, karena Johnson memastikan sentralnya tetap whodunit. Dan naskah buatannya benar-benar terpelajar mengecoh apa pun ekspektasi penonton mengenai sesuatu dan seseorang.
Presentasi misterinya berdaya kejut tinggi tanpa mencurangi, di mana tiap pengungkapan fakta, meski berusaha tampil mencengangkan, selalu mengutamakan kerapian konstruksi dongeng. Semua benih sudah ditanam secara konsisten. Hanya saja, kita tidak menyadari jika suatu elemen yang muncul di layar yakni benih, atau menyadari tanpa tahu maksud bahu-membahu. Satu-satunya kelemahan naskah Johnson adalah ketika berusaha memperlebar cakupan, menghadirkan agresi-agresi lebih besar, menggiring kisahnya keluar dari kediaman Harlan. Tensi di fase itu berkurang, menciptakan Knives Out sedikit membengkak
Tapi karena Johnson hadir dengan penyutradaraan yang begitu bertenaga, Knives Out selalu mampu bangun dari keterpurukan apa pun. Dia memahami seni dramatisasi dalam whodunit, menjadikan investigasi dan momen pengungkapan faktanya mengasyikkan. Ada sekuen di pertengahan durasi tatkala salah seorang karakter menjelaskan runtut semua kejadian di malam kematian Harlan. Di situ Johnson tahu cara memacu adrenalin penonton, kesudahannya sulit rasanya menahan impian bertepuk tangan.
Tidak ada whodunit manis tanpa jajaran ensemble cast memikat. Seluruh penampil memerankan figur eksentrik, bahkan komedi, dan mereka bisa menarik perhatian bak magnet berkekuatan tinggi pada semua kemunculan. Kita bisa menerka bahwa Jamie Lee Curtis dan Michael Shannon bakal berakting berpengaruh, masing-masing memainkan pebisnis wanita tangguh dan penerbit buku yang putus asa (keduanya juga menerima momen komedik), dan kesenangan bertambah dikala pelakon lain tampil berlawanan dengan huruf dari film lain yang sebelumnya melambungkan nama mereka di mata publik.
Dari ibu dengan jiwa terguncang akibat gangguan iblis, Toni Collette di sini adalah influencer pencari perhatian; dari pendekar bangsa, Chris Evans menjadi perjaka pemberontak dengan verbal agresif; Daniel Craig bertransformasi dari intel berkelas menjadi detektif jenius nan gila yang bak punya hubungan darah dengan Sherlock Holmes dan/atau Hercule Poirot. Knives Out merupakan produk dari sineas yang paham sekaligus mencintai misteri pembunuhan dan whodunit, lalu bersenang-senang membuatnya, sehingga melahirkan salah satu suguhan terbaik tahun ini yang turut menyimpan nilai hiburan tinggi.



Post a Comment
Post a Comment