Ads 720 x 90

Fiksioner Free Blogger Theme Download

Jaff 2019 - Bento Harassment

Kadang aku teringat masa sekolah dulu, ketika masih membawa bekal buatan ibu. Karena sudah belasan tahun berlalu, tentu aku tidak ingat niscaya tiap menunya, tapi secara alamiah, aku mengasosiasikan beberapa makanan dengan peristiwa tertentu. Dibuat berdasarkan sebuah esai berjudul sama, Bento Harassment bicara hal serupa, dikala bekal dari ibu merepresentasikan fase-fase hidup karakternya di sekolah.

Kaori (Ryoko Shinohara) mesti menjadi ibu tunggal selepas maut suaminya beberapa tahun kemudian. Saat keluarga ini masih utuh, Kaori begitu bersahabat dengan kedua puterinya, bahkan berjanji akan menciptakan restoran bersama. Kini, si puteri sulung, Wakaba (Rena Matsui) tinggal terpisah walau bekerja di restoran yang sama dengan Kaori, sedangkan si bungsu, Futaba (Kyoko Yoshine), adalah cukup umur pemberontak.

Kaori dan Futaba tinggal serumah, tapi jarang bicara. Futaba menutup pintu komunikasi mereka, melarang Kaori memasuki kamarnya, memilih hanya bicara lewat chat bahkan dikala keduanya ada di satu ruangan. Bagi Futaba, Kaori bak monster (beliau menamai kontak Kaori sebagai “Ogre”), dan menuruti perintah ibu bukan suatu hal keren. Sempat frustasi, Kaori menerima pandangan baru terkait cara supaya Futaba mengubah perilaku.

Kaori membuatkan charaben (character bento), adalah bekal yang disusun supaya membentuk aksara terkenal, wajah manusia, binatang, atau hewan. Kaori tahu hal itu bertentangan dengan definisi “keren” dari Futaba. Dia berharap Futaba bakal merasa kesal dan akhirnya terdorong untuk berubah. Begitu menarik desain Kaori, tiap jam makan siang, Futaba selalu dikerubuti sahabat-temannya yang ingin tau, “Bento mirip apa lagi yang dibuat ibumu?”. Bahkan sempat pula di bekal itu terselip pesan semoga Futaba mau mencuci piring sehabis makan.

Kreativitas. Itulah pondasi Bento Harassment. Desain kreatif Kaori jadi hiburan tersendiri, bukan cuma bagi sobat-teman sekelas Futaba, juga penonton. Dan Renpei Tsukamoto (One Missed Call 2, Wig, Reon) selaku sutradara sekaligus penulis naskah, memanfaatkan ragam kreasi Kaori guna menciptakan biar secara natural, bekal-bekal itu dapat mewakili fase-fase hidup Futaba. Dari persiapan ujian sampai dikala tumbuh getar-getar cinta di hati Futaba terhadap teman abad kecilnya, Tatsuo (Kanta Sato), bekal sang ibu selalu menemani, melahirkan momen-momen tak terlupakan.

Humornya tidak kalah kreatif. Absurditas komedi khas film Negeri Sakura efektif menyegarkan suasana berkat pengadeganan menarik sang sutradara, pula kebolehan jajaran pemain, khususnya Ryoko Shinohara—yang gemar menatap licik ke arah kamera bak tokoh sinetron tiap rencananya membuat Futaba kesal berakhir sukses.

Naskah buatan Renpei Tsukamoto tampil apik di beberapa sisi. Pesan wacana “cinta dalam masakan, masakan penuh cinta, makanan untuk cinta” tersampaikan dengan mulus. Kita tahu kelak Futaba akan luluh, namun bukan berarti perubahan itu mampu disajikan seenaknya. Tsukamoto memastikan ada gradasi dalam transformasi Futaba. Bahkan selepas terungkapnya satu elemen mengejutkan, Futaba masih meragu. Sebuah kewajaran. Remaja pemberontak yang ingin terlihat keren tampaknya pasti punya gengsi luar biasa besar, yang acap kali menahannya bersikap jujur sesuai kata hati.

Satu poin yang agak mengganggu adalah kisah sampingan mengenai Okano (Ryuta Sato), ayah tunggal yang selepas ajal istrinya, kerepotan mengurus anak seorang diri. Sampai kesudahannya Okano menemukan blog di mana Kaori mempublikasikan charaben buatannya, lalu terinspirasi untuk melaksanakan hal serupa. Di sini Tsukamoto bagai ingin membubuhkan dongeng cinta bagi Kaori sembari menyelipkan tuturan soal “Dua orang dipersatukan oleh luka yang sama”, tapi justru membuat pernak-pernik tak substansif, yang jikalau dihilangkan pun takkan melemahkan cerita utama.

Memasuki babak simpulan, Bento Harassment mampu saja terjerumus ke ranah disease porn murahan nan eksploitatif, kalau bukan alasannya adalah nalar yang tetap naskahnya perhatikan. Ada kesan mendadak, tapi kalau dirunut lagi, hal tersebut wajar terjadi, bahkan semestinya sudah diantisipasi, baik oleh penonton maupun karakternya. Hasilnya ialah 15 menit terakhir yang meruntuhkan benteng perasaan. Pengadeganan Tsukamoto punya takaran dramatisasi yang tepat, sementara Ryoko Shinohara lewat senyum serta linangan air mata sarat kasih sayang akan mencengkeram hati siapa pun.

Related Posts

Post a Comment

Subscribe Our Newsletter