Ads 720 x 90

Fiksioner Free Blogger Theme Download

Uncorked (2020)

Film drama ibarat minuman beralkohol. Ada yang langsung menyentak, ada pula yang halus, sekilas tidak berefek, tapi tanpa sadar, kamu sudah mabuk dibuatnya. Uncorked, yang mengisahkan mimpi seorang laki-laki muda menjadi sommelier, masuk golongan kedua.

Setelah adegan pembuka diiringi alunan hip hop asyik, kita mendengar Elijah (Mamoudou Athie), yang bekerja di sebuah toko wine, menjelaskan soal wine kepada Tanya (Sasha Compère). “Apa kamu suka hip hop?”, tanya Elijah. Tanya mengiyakan. Lalu Elijah mendeskripsikan satu demi satu wine dengan mengumpamakannya sebagai musisi hip hop. Wine A ialah Jay-Z, wine B yakni Kanye West, wine C yaitu Drake. Momen singkat tersebut eksklusif membuat Tanya tertarik pada Elijah, sebagaimana saya pada filmnya.

Elijah ingin mengikuti ujian Master Sommelier, tapi terbentur tuntutan sang ayah, Louis (Courtney B. Vance), biar meneruskan bisnis restoran iga keluarga. Setidaknya ada yang membela Elijah. Siapa lagi jikalau bukan sang ibu, Sylvia, yang diperankan oleh Niecy Nash dengan bersenjatakan kemampuan membabat kalimat-kalimat menggelitik dalam naskah tulisan Prentice Penny (juga duduk di kursi sutradara), menghasilkan kelakar-kelakar penyegar suasana.

Uncorked yakni gesekan antara iga yang lebih “agresif dan kotor” dengan wine yang identik dengan kesan elegan. Sekilas jauh berlawanan, tapi dalam prosesnya, film ini memberikan bahwa keduanya dapat bersandingan. Lagipula jika jeli menentukan jenisnya, wine yakni teman yang tepat untuk dinikmati sembari menyantap barbeku.

Akhirnya, walau harus kerepotan membagi waktu dengan pekerjaannya di restoran keluarga, Elijah nekat melawan kehendak Louis dengan mendaftar di sekolah sommelier guna mempersiapkan ujian. Pernah di suatu kesempatan, Elijah lembur biar diberi izin mengikuti acara kelompok berguru. Problematika serupa mungkin pernah kita semua hadapi. Orang bau tanah menyuruh menyelesaikan suatu peran terlebih dulu sebelum memperbolehkan melakukan hal yang kita mau. Membicarakan mimpi yang bertentangan dengan keinginan orang bau tanah, Uncorked memang begitu akrab dengan keseharian.

Relevan, relatable, dan berpijak berpengaruh pada realisme. Penny tidak berusaha menciptakan drama yang terlampau dramatis. Bahkan tatkala tokoh-tokohnya bertengkar, tidak ada ledakan besar. Hanya letupan-letupan kecil yang mewakili dinamika keluarga. Sebagai dua kutub berseberangan ialah Elijah dan Louis. Bukan belakang layar jika di penghujung dongeng keduanya bakal berbaikan, tapi ini bukan melodrama yang seketika mengakibatkan Louis ramah dan hangat, lalu menciptakan mereka saling berpelukan sambil banjir air mata. Tetap ada jarak alasannya rasa gengsi.

Tapi kepiawaian Penny memainkan bahasa non-lisan, memperlihatkan gradasi terang namun lembut, sehingga penonton bias merasakan ketika ayah dan anak tersebut mulai terkoneksi. Pilihan konklusinya pun mendukung gaya bertuturnya. Uncorked bukan melodrama mengharu biru di mana keajaiban mendadak terjadi demi emosi. Filmnya ditutup oleh ending yang tetap berpijak kuat pada realisme tanpa harus menghilangkan kehangatan dalam impian seputar mimpi. Bahwa mimpi tak semestinya dikurung, meski seperti wine, semakin lama mimpi itu tersimpan, semakin nikmat pula abad balasannya terwujud.


Available on NETFLIX

Related Posts

Post a Comment

Subscribe Our Newsletter