Berangkat dari kisah konkret Stephane Benhamou dan Daoud Tatou yang mendedikasikan hidup mereka guna membantu anak-anak kurang beruntung yang ditelantarkan sistem, The Specials menuturkan kisah orang-orang spesial dengan layak, solid, walau tidak secara Istimewa. Diarahkan sekaligus ditulis oleh Olivier Nakache dan Éric Toledano, serupa karya terbesar mereka, The Intouchables (2011), The Specials juga tampil ringan, cukup informatif, meski kualitas naskah masih jadi permasalahan terbesar.
Tokoh sentralnya yaitu Bruno (Vincent Cassel) yang menjalankan organisasi Voice of the Righteous, selaku suaka bagi para penderita autis yang ditolak oleh masyarakat. Bahkan sistem pun tak erat pada mereka. Selama 15 tahun, Voice of the Righteous beroperasi tanpa sertifikat resmi. Pemegang otoritas mulai melaksanakan investigasi yang kemungkinan besar bakal berujung pembubaran organisasi itu. Kalau benar demikian, bagaimana nasib belum dewasa asuh Bruno?
Padahal pihak rumah sakit, yang mengakui bahwa keharusan mereka mematuhi protokol acap kali menghalangi penderita autis mendapatkan derma, sering merujuk pasien ke organisasi milik Bruno yang tak segan menerapkan metode “out of the box”. Pemerintah berusaha menegakkan peraturan tanpa menyediakan solusi alternatif. Berbeda dengan Bruno yang selalu berkata “I will find a solution”, bahkan tatkala sebenarnya dia sangat kerepotan.
The Specials menggambarkan betapa chaotic keseharian Bruno. Biarpun mendapat tunjangan dari sahabatnya, Malik (Reda Kateb), yang mengelola organisasi bernama The Hatch yang berfungsi mendidik bawah umur jalanan, segalanya tidak terasa gampang bagi Bruno. Teleponnya selalu berbunyi, menghalanginya menikmati hal-hal personal termasuk berkencan. Kekacauan tersebut diwakili momen menggelitik ketika seorang tetangga protes alasannya suara berisik dari apartemen kawasan Voice of the Righteous merawat bocah-bocah autis.
Kekacauan yang sayangnya turut menular ke cara naskahnya bercerita. Kata “specials” di judulnya tidak hanya merujuk pada penderita autis, pula Bruno, Malik, dan remaja-akil balig cukup akal pengasuh lain, yang kebanyakan juga memiliki latar belakang kurang beruntung. The Specials berusaha menyoroti semua figur tersebut, yang malah menyebabkan fokusnya berserakan. Tidak ada karakter yang benar-benar digali mendalam.
Dylan (Bryan Mialoundama) si anak didik Malik yang paling bermasalah bahwasanya cukup menarik dalam prosesnya memahami autism sembari memperbaiki diri sendiri, tapi ia ibarat sahabat yang hanya kita temui di kantor. Tidak sedikit pun kita tahu kehidupan personalnya. Bruno otomatis mendapat porsi lebih, tapi nasibnya tidak jauh beda. Sebagaimana sang karakter yang tidak sempat memperhatikan urusan personal, penonton juga akan kesulitan membangun keintiman dengannya. Kelemahan film ini terkait fokus bekerjsama sudah tercium semenjak adegan pembuka yang memberikan seorang gadis penderita autis berlari histeris di tengah kota. Beberapa pekerja sosial berusaha mengejarnya. Setelahnya si gadis tak pernah tampak lagi.
Jajaran cast-nya bermain baik, khususnya mengingat fakta karakter mereka tidak diberikan pondasi memadai oleh naskahnya. Cassell merupakan protagonis yang gampang menarik simpati lewat kepedulian dan kasih sayangnya, lewat bagaimana dia berusaha memendam perasaan tertekan demi bawah umur latih, lewat kecanggungannya di depan wanita. The Specials turut menampilkan pemeran dengan autisme, yaitu Benjamin Lesieur sebagai Joseph, bocah yang menginspirasi Bruno mendirikan Voice of the Righteous. Nominasi Most Promising Actor di ajang César Awards Februari lalu memang pantas didapatkannya.
The Specials sempat membahas beberapa gosip, sebutlah ketakutan publik kepada penderita autis, persepsi keliru tentang gangguan perkembangan itu (seorang ibu meyakini puteranya dikutuk), dan seperti telah disebut, wacana sistem yang kurang mendukung. Kebanyakan sebatas pernak-pernik sambil kemudian, tapi jika dipandang selaku wadah informasi gres untuk penonton awam, film ini telah menjalankan fungsinya. Dan serupa The Intouchables, Olivier Nakache dan Éric Toledano bisa menghangatkan hati penonton lewat beberapa montage yang dibarengi music garapan Grandbrothers, juga konklusi uplifting yang memberi ganjaran atas kesediaan kita menghabiskan waktu bersama tokoh-tokohnya selama hampir dua jam.
Available on KLIK FILM



Post a Comment
Post a Comment