Hanya dalam 10 menit pertama—yang menampilkan dua sitasi, adalah seorang laki-laki yang vespanya mogok dan dua penjaga malam sekolah—Nightmare Side: Delusional sudah empat kali melempar jump scare, dan semuanya dibarengi hentakan musik berisik yang membuat penonton seketika ingin mengunjungi dokter spesialis THT. Kemudian judul film terpampang di layar, dan hanya selang beberapa detik, jump scare berikutnya pribadi menyusul dengan gaya serupa. Saya langsung tahu sedang berhadapan dengan film mirip apa.
Nightmare Side: Delusional merupakan film kedua yang dibuat berdasarkan program horor milik radio Ardan, sesudah Nightmare Side enam tahun lalu yang cuma beredar empat hari di dua bioskop Bandung dan Jakarta. Dari sebuah antologi, bentuk filmnya diubah jadi satu dongeng panjang berlatar SMA. Shelly (Gege Elisa) merupakan gadis berkemampuan indigo. Alhasil ia pun kerap tiba-datang dikejutkan oleh penampakan makhluk menakutkan. Hal itu mendatangkan persoalan. Di rumah, sang ibu (Melissa Karim) tak percaya dan sering memarahi Shelly, sementara di sekolah dia dianggap ajaib sehingga jadi korban perundungan.
Hanya sahabatnya yang diperankan Ajil Ditto (saya lupa nama karakternya, dan baik media umum maupun sinopsis resmi filmnya tak mencantumkan itu), yang memahami Shelly. Lalu datanglah Naya (Fay Nabila), seorang siswi baru yang rupanya mempunyai kemampuan serupa. Ada situasi unik saat Shelly dan Naya pertama bertatap muka. Kalau biasanya si murid gres duduk diam seorang diri di pojokan, kali ini sebaliknya. Naya lebih dulu menghampiri Shelly yang selalu menundukkan wajah sambil memainkan jam pasir. Bahkan setelah mengetahui bahwa Shelly juga indigo, Naya berusaha keras mencarinya.
Lalu dari mana datangnya teror film ini? Ada beberapa. Penampakan yang dilihat Shelly atau Naya, visualisasi siaran program Nightmare Side yang didengar karakternya, hingga gangguan hantu misterius yang selalu berbisik “Aku nggak salah, aku nggak asing” terhadap trio tukang bully di sekolah. Biarpun datang dari beragam sumber, kemasannya selalu sama. Sutradara Joel Fadly (My Stupid Boyfriend, Membabi-Buta) sepenuhnya bergantung pada dentuman musik dengan volume selangit. Mengagetkan? Ya. Beberapa kali. Tapi jangankan hantu, kartun My Little Pony saja pasti membuat kaget jikalau diberi tata suara semacam itu.
Bergulir selama 100 menit, Nightmare Side: Delusional yakni apa yang sering aku sebut sebagai “kompilasi jump scare berisik”. Sewaktu otak dan hati tidak menerima asupan cukup, indera pendengaran saya terus dijejali polusi suara. Pesan anti-bullying pun karam, demikian pula paparan subtil terkait acuan latih yang hendak diselipkan trio penulis naskah Joel Fadly, Dewi Fita, dan Yovan Nainggolan. Shelly menderita karena selalu dihakimi dan kurang mendapat perhatian ibunya. Sebaliknya, ibu Naya menerima, malah sempat terlibat dialog singkat dengan sang puteri mengenai hal tersebut.
Setidaknya, tata rias garapan Didin Syamsudin yang pernah terlibat dalam judul-judul mumpuni seperti Modus Anomali dan Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak masih bisa dinikmati. Beberapa terjebak pada acuan “hantu-muka-hitam-pekat-beroleskan-arang”, tapi ada pula beberapa yang menawarkan jejak-jejak kreativitas yang patut dihargai.
Menjelang babak tamat, alurnya melempar twist yang bermain-main dengan struktur timeline. Idenya menarik, pun harus diakui mengejutkan, namun hanya sebatas trik tanpa menghipnotis aspek emosional atau memunculkan dampak lain. Tanpanya tidak ada yang berubah. Kemudian teror klimaksnya diselesaikan oleh penjaga kuburan yang mengingatkan pada sosok ustaz pengusir setan di horor lokal periode lampau. Apa perlunya menimbulkan Naya seorang indigo kalau ujungnya semua final lewat membaca doa? Apalagi drama seputar “perjuangan indigo menyesuaikan diri di lingkungan sosial” tampil bagai hiasan kecil semata.
Menjelang simpulan film, sewaktu aku sudah sangat lelah (ditambah rasa sakit di indera pendengaran), muncul Raisya Rahma Kamilah, aktris cilik bintang film adik Shelly. Dia bermonolog, menuangkan seluruh isi hati karakternya. Air matanya mengalir, tapi itu bukan tangisan sembarangan. Ada gradasi emosi yang natural. Awalnya ia sekuat tenaga menahan tangis, tapi sesudah kesedihan itu makin menyesakkan, air mata tak lagi terbendung. Hebat betul bocah ini. Cuma butuh screen time beberapa menit, aktingnya sudah berkali-kali lipat jauh lebih anggun dari para dewasa lawan mainnya. Untuk talenta era depan ini, saya bersedia menambahkan setengah bintang bagi Nightmare Side: Delusional.



Post a Comment
Post a Comment