Dark Waters lebih menakutkan dibanding horror soal iblis, monster, atau pembunuh berantai mana pun. Dibuat menurut artikel The Lawyer Who Became DuPont's Worst Nightmare tulisan Nathaniel Rich yang dipublikasikan di The New York Times Magazine, film ini memunculkan kengerian dari hal terdekat di keseharian kita semua. Apa alhasil kalau perabot di rumah—yang mestinya menghadirkan keamanan serta kenyamanan—berpotensi merenggut nyawamu? Apa karenanya bila ketamakan korporasi mengancam keselamatan 99% makhluk di muka Bumi?
Terdengar seperti premis fiksi-ilmiah yang terwujud jadi realita memang. Semua berawal dari tahun 1998, saat Wilbur Tennant (Bill Camp), petani dari Parkersburg, meminta pertolongan pengacara Robert Bilott (Mark Ruffalo), sesudah meyakini bahwa kematian tak wajar 190 ekor sapi-sapi ternaknya merupakan balasan pembuangan limbah berbahaya DuPont, perusahaan kimia terbesar di dunia. Masalahnya, seperti para pengacara dari firma Taft lain, Bilott hanya mengambil klien perusahaan-perusahaan besar.
Awalnya Bilott menolak. Selain bukan “lahannya”, perkara tersebut berpotensi merusak karir cemerlang yang gres dirintis. Kehancuran karir dapat berbahaya bagi kondisi finansial keluarga Bilott, karena sang istri, Sarah (Anne Hathaway) yang dahulu juga sempat bekerja di Taft, kini telah menjadi ibu rumah tangga. Tapi sehabis melewati beberapa pertimbangan, dia bersedia menemui Tennant, dan di sanalah Bilott (dan penonton) menyaksikan pemandangan horror.
Sutradara Todd Haynes (Far from Heaven, I’m Not There, Carol), dibantu sinematografer langganannya, Edward Lachman, mengaplikasikan gambar-gambar dengan tone warna acuh taacuh nan kelam sebagai pondasi atmosfer, sebelum menguatkan teror lewat gugusan pemandangan “grafik”, seperti kuburan massal sapi-sapi milik Tennant yang dibakar, sampai ketika seekor sapi menggila dan mulai menyerang. Kejadian-kejadian tersebut kolam pemantik kesadaran Bilott (dan sekali lagi, penonton), bahwa belakang layar yang terkubur, mungkin jauh lebih besar dan menyeramkan dari perkiraan.
Benar saja. Semua itu rupanya sebatas awal dari proses panjang nan berliku yang membentang selama lebih dari satu dekade (teks penanda bergantinya tahun di sudut kiri layar membuat kita makin mencicipi betapa panjang pertempuran Robert Bilott). Mencengangkan sekaligus mengerikan, betapa sebuah kasus lokal di suatu desa kecil lalu berkembang jadi fenomena global yang mengancam sebagian besar populasi umat manusia, bahkan makhluk hidup di seluruh dunia. Dan naskah buatan Matthew Michael Carnahan (World War Z, Deepwater Horizon) dan Mario Correa bisa secara padat merangkum kompleksitas proses tersebut ke dalam paparan berdurasi 126 menit.
Dibungkus sebagai legal thriller, Dark Waters banyak menampilkan istilah-istilah kimia, hukum, pula mempunyai cukup banyak aksara, yang jelas bakal memusingkan, khususnya untuk penonton awam. Tapi di sini, kerumitan tersebut yakni risiko yang harus diambil, mengingat presisi serta detail pemeriksaan wajib dimiliki. Kita sebagai penonton yang mesti mencurahkan perhatian ekstra demi memahami. Setidaknya, biarpun beberapa detail mungkin terlewat, garis besar alasannya-balasannya gampan diikuti.
Dituntut bekerja keras tiap waktu selama bertahun-tahun, masuk akal dikala ruang personal Billot ikut terkena imbas. Sang pengacara mulai paranoid, bahkan khawatir sewaktu-waktu ada bom terpasang di mobilnya. Pun konflik dengan Sarah, yang mengeluhkan ketiadaan waktu Billot bagi buah hati mereka, serta risiko yang dapat membahayakan keluarga, tak terelakkan. Di sinilah akting jajaran pemainnya paling bersinar. Menyaksikan Ruffalo, kita bisa percaya kalau Robert Billot punya nurani, sesosok insan biasa yang di satu titik bakal dihantam akidah sekaligus psikisnya. Sedangkan Hathaway menjadi istri yang tak ragu mengkritisi kesalahan Billot, namun di belakang, bersedia pasang badan membela sang suami.
Film mirip Dark Waters dibentuk dengan tujuan menelanjangi rahasia gelap, berbagi kebenaran, membuka mata penonton, dan bila mampu, mengubah situasi. Begitu filmnya usai, saya terprovokasi, khawatir, lalu menjadi lebih was-was dan terdorong mencari tahu lebih lanjut. Saya berani bertaruh ada banyak penonton lain mencicipi hal serupa. Artinya, Dark Waters berhasil mencapai tujuannya.



Post a Comment
Post a Comment