Goodfellas (1990) dan Casino (1995), mirip glamorisasi Martin Scorsese terhadap bandit yang dia idolakan sewaktu kecil, walau di final, selalu ditunjukkan bagaimana pilihan hidup itu bakal berakhir buruk. Kini, dalam The Irishman, menyentuh usia 77 tahun, Scorsese mungkin telah menemukan closure, menyadari bahwa segala kekuatan dan kekerasan itu tak lagi nampak keren, hanya menyebabkan penderitaan, kesepian, yang hanya bermuara pada satu poin: akhir hayat.
Itulah kenapa, mengiringi pengenalan banyak aksara film ini, selalu tercantum kapan serta bagaimana mereka meregang nyawa, di mana secara umum dikuasai (kecuali satu nama), tewas akhir dibunuh. Mengadaptasi buku nonfiksi I Head You Paint Houses karya Charles Brandt yang sampai kini kebenarannya diperdebatkan, kisahnya dipaparkan melalui sudut pandang Frank Sheeran (Robert De Niro), veteran Perang Dunia II, yang pada tahun 1950an, bekerja sebagai sopir truk di Philadelphia.
Satu hal yang seketika mencuri perhatian pada kurun tersebut adalah teknologi de-aging untuk memudakan tampilan fisik De Niro (dan lebih dari satu jam lalu, Al Pacino). Sempurna? Mungkin belum. Beberapa garis wajah yang terlalu mulus masih nampak jikalau diperhatikan saksama, tapi cukup sebagai ilusi supaya penonton percaya tengah melihat pria berumur 30-40an tahun. Satu hal yang sukar disembunyikan adalah kondisi fisik sang actor. Mustahil De Niro bergestur seolah masih berada di masa jayanya, sehingga sedikit gila era menyaksikan Frank menghajar seorang pemilik toko roti.
Tapi itu sebatas kelemahan minor yang nyaris tak mengganggu perjalanan 209 menit (hampir tiga setengah jam) yang filmnya tawarkan. Dari mengantar ikan bagi mafia lokal, reputasi Frank sampai di indera pendengaran Russell Bufalino (Joe Pesci), pemimpin kelompok cecunguk Bufalino. Sebagaimana digambarkan Frank, Russell merupakan “penguasa jalan”. Semua bisnis kotor hingga pembunuhan harus seizing Russell. Frank mulai jadi sosok iktikad Russell, menjalankan banyak misi, termasuk “painted houses” dan “carpentry”.
Keduanya ialah istilah durjana. “painted houses” berarti membunuh (sebab saat menembak target, darah orang itu akan muncrat mirip cat di tembok), sedangkan “carpentry” berarti menyingkirkan tubuh korban. Beberapa pihak mencurigai keabsahan istilah-istilah tersebut, namun di situ terletak salah satu daya tarik The Irishman. Ditulis naskahnya oleh Steven Zaillian (Schindler’s List, Gangs of New York, Moneyball), film ini kolam panduan soal dunia durjana. Selain istilah, Frank turut “mengajari” kita soal pemilihan pistol yang tepat. Pastikan pistol itu menjadikan suara agar para saksi mata kabur dan kesulitan mengenali wajahmu, tapi jangan terlalu keras atau kendaraan beroda empat patrol bakal menyatroni lokasi. Apakah realitanya demikian? Tidak jadi soal. Terpenting, The Irishman menerima kadar hiburan tinggi berkatnya.
Seiring waktu, Frank dan Russell semakin erat, bahkan keluarga masing-masing kerap menghabiskan waktu bersama. Pembicaraan keduanya senantiasa memikat sebab dua hal: akting dan penyutradaraan. De Niro, yang lebih pasif ketimbang mayoritas lawan bicaranya siapa pun itu, bisa menyiratkan kekalutan batin yang makin lama makin berpengaruh, tapi Joe Pesci, yang kembali dari periode pensiun sesudah hampir satu dekade, merupakan MVP-nya. Sosoknya berjalan di garis ambigu antara pria pemurah dan gangster keji, kemudian dengan gampang menarik atensi lewat senyum maupun tatapan mengintimdasi tanpa harus berusaha melakukannya.
Contohnya dikala Russell menemani Angelo Bruno (Harvey Keitel) mengonfrontasi Frank pasca dia meledakkan sebuah kawasan laundry. Pesci hanya duduk diam. Bibirnya menyunggingkan senyum sementara kedua tangannya tersembunyi di balik meja, bagai seorang bocah yang bersemangat menantikan sebungkus hadiah. Apa arti senyum itu? Formalitas? Penenang bagi Frank? Atau ada intensi terselubung? Mana pun itu, aku dibuat merinding ngeri menyaksikannya.
Terkait penyutradaraan, silahkan perhatikan betul tiap pengadeganan, dan lewat bermacam-macam detailnya, anda akan mendapati betapa hebat seorang Martin Scorsese. Beberapa tampil subtil, contohnya dialog Frank dan Russell di sebuah café. Ditemani iringan biola yang kurang jelas memainkan Speak Softly Love dari The Godfather, ditambah tempo berlangsungnya pembicaraan (penuturan pemain film, perpindahan shot), momen itu memunculkan intensitas elegan, seperti musik jazz yang seseorang dengar sesaat sebelum kematian menjemput.
Sejak debutnya di Who’s That Knocking at My Door (1967), Scorsese memang sudah memberikan kepekaan dalam mengawinkan media audio dengan visual. Pilihan musiknya berhasil menyempurnakan atmosfer adegan. Kali ini, selain scoring garapan komposer langganannya, Robbie Robertson, lagu dari beragam genre, khususnya rock ‘n roll dan jazz rutin menemani, dengan In the Still of the Night milik The Five Satins yang terdengar mistis jadi musik yang bakal terus terngiang di benak penonton untuk waktu usang.
Bukan cuma yang bersifat subtil, penyutradaraan Scorsese juga bersinar masa sang sineas mengambarkan bahwa usia sekadar angka, dan tak menghalanginya memamerkan gaya bertenaga. Beberapa kali take panjang diterapkan, di mana penembakan yang Frank lakukan di sebuah restoran bakal membuatmu terkejut, kemudian terpukau. Sementara transisi mulus pagi menuju malam di rumah sakit jelang film berakhir akan memancing pertanyaan ihwal trik macam apa yang Scorsese dan timnya pakai.
Scorsese boleh memimpin, namun pencapaian The Irishman takkan terjadi tanpa bantuan timnya. Penyuntingan Thelma Schoonmaker yang telah jadi kolaboratornya sejak Raging Bull (1980) membantu Scorsese menyampaikan repetisi dalam keseharian Frank kurun sebuah rentetan insiden dimunculkan berulang kali secara beruntun (mengantar daging, membuang pistol, mengambil uang setoran), juga…..humor!
Ya, biarpun mengusung tema kelam nan kejam, The Irishman di luar dugaan cukup menggelitik. Film ini bukan saja Scorsese dalam fase paling matang dan nyaman, juga playful. Bagaimana ia menggambarkan proses “penghantara pesan” antara pelaku dunia hitam (yang melibatkan banyak materi peledak) contohnya.
Semakin jauh filmnya berjalan, semakin saya dibuat tercengang oleh seberapa besar lengan berkuasa efek gangster dalam berjalannya negara adikuasa berjulukan Amerika. Setumpuk abjad datang dan pergi, tapi Zaillian memastikan penonton mampu memilah “siapa adalah siapa” melalui kejelasan serta kesolidan struktur bercerita. Gerbang menuju konspirasi-konspirasi besar dibuka sesudah oleh Russell, Frank diperkenalkan pada Jimmy Hoffa (Al Pacino), ketua serikat buruh International Brotherhood of Teamsters. Jimmy, yang dideskripsikan oleh Frank sebagai “sebesar Elvis”, amat berpengaruh, kekuasaannya ketika itu mungkin hanya di bawah Presiden (atau malah lebih?). Serupa kondisinya bersama Russell, Frank mulai menerima dogma Jimmy, menjadi bodyguard kepercayaannya, bahkan Jimmy menjadi figur ayah yang dirindukan puteri Frank, Peggy (Anna Paquin).
Keluarga merupakan salah satu pokok bahasan utama The Irishman, yang penuturannya kental ironi. Frank ingin melindungi keluarganya, termasuk Peggy, namun semakin jauh beliau terlibat dalam dunia bawah tanah—yang dia anggap menambah kekuatan, kekuasaan, dan keamanan—semakin menjauh pula sang puteri. Dari situ awal segala bencana The Irishman, yang menolak meromantisasi dan mendramatisasi akhir hayat. Bahkan ajal terpenting sepanjang film tak diperlakukan dengan Istimewa. Itulah poin yang ingin diutarakan Scorsese. Dunia mafia hanya membawa akhir hayat, dan kematian hanya maut. Sebuah final. Tinggal bagaimana, dan dengan siapa seseorang menantikan simpulan itu datang.
Available on NETFLIX



Post a Comment
Post a Comment