Setelah kesuksesan Ip Man 4: The Finale baik secara komersial maupun critical, Donnie Yen kembali dengan Enter the Fat Dragon, selaku remake film Sammo Hung rilisan tahun 1978, walau sebetulnya kedua film ini sekadar menyebarkan judul tanpa mempunyai kesamaan plot. Kalau Sammo Hung memerankan peternak babi pengagum Bruce Lee, maka Donnie Yen adalah Fallon Zhu, polisi Hong Kong mahir bela diri yang badannya menggemuk selepas ditinggalkan tunangannya dan dimutasi balasan kerap merusak akomodasi umum tiap mengejar penjahat.
“Jackass of the century”. Demikian julukan yang disematkan kepada Fallon. Kontrol dirinya masa beraksi memang jelek, dan karena itu, dalam satu hari beliau kehilangan segalanya. Setelah menggagalkan aksi perampokan yang berujung kehancuran di mana-mana, Fallon dipindahkan ke departemen penyimpanan barang bukti. Bukan itu saja, beliau pun ditinggalkan oleh tunangannya, Chloe (Niki Chow), akhir telat menghadiri sesi pemotretan pre-wedding. Chloe merasa selalu dinomorduakan, pun menganggap Fallon kurang mendukung karirnya sebagai aktris yang kerap menuai kritikan alasannya akting buruknya.
Kini hanya duduk seharian di balik meja, Fallon pun menenggelamkan diri dalam makanan sehingga berat badannya melonjak dua kali lipat sampai melebihi 100 kg. Kesempatan untuk mengembalikan hidupnya mirip sedia era tiba sewaktu Fallon ditugaskan ke Jepang guna mengawal seorang tahanan. Misi sederhana itu berubah runyam alasannya keterlibatan geng Yakuza, yang secara kebetulan sedang menyewa jasa Chloe di sebuah program.
Ditulis naskahnya oleh Wong Jing—sutradara produktif yang telah menggarap sekitar 115 judul—yang turut mengarahkan filmnya bersama Kenji Tanigaki, Enter the Fat Dragon sedikit menaburkan gaya mo lei tau (bentuk komedi yang dipopulerkan Stephen Chow pada 90-an) dalam humornya yang mengandalkan slapstick, terutama di paruh awal, contohnya dikala dua reporter televisi mendadak menyiarkan secara langsung perkelahian Fallon melawan para perampok bank. Kadarnya tidak begitu kental, tapi jejaknya terang kentara, apalagi melihat keterlibatan Sandra Ng, salah satu aktris yang identik dengan mo lei tau.
Teknik melucu itu bukan diperuntukkan bagi semua orang khususnya penonton modern (salah satu alasan mengapa Chow sendiri mulai meninggalkannya). Wong Jing kentara berusaha membatasi kadarnya, yang justru mengakibatkan kesan setengah-setengah, sebelum kesudahannya total beralih ke slapstick monoton yang penghantarannya enggan memedulikan timing, seolah asal terjang dengan gugusan punchline lemah. Hasilnya hit-and-miss, dengan persentase meleset lebih tinggi. Lain dongeng saat Wong Jing lebih memeras absurditas kreatifnya. Di situ, humornya efektif, semisal abad ia memparodikan beberapa adegan ikonik dalam film-film aksi Donnie Yen.
Tapi kelemahan terbesar Enter the Fat Dragon adalah kegagalan menangkap poin utama film aslinya. Menampilkan Donnie Yen dalam balutan fat suit, ketanggulan, kelincahan, dan kelenturan Fallon dikala langgar tidak ada bedanya dibanding ketika masih prima. Pada versi 1978, menarik melihat Sammo Hung mengejutkan orang-orang yang meremehkannya sewaktu menghajar lawan-lawannya meski tubuhnya gemuk. Sedangkan di sini, sejak awal kita sudah mengetahui kehebatan Fallon, yang tak terkikis sama sekali begitu dia menjadi gemuk. Hal ini menghilangkan elemen kejutan dan humor yang semestinya timbul, padahal sang pemain film sudah berusaha semaksimal mungkin bertingkah konyol.
Paling tidak, mirip biasa menyaksikan Donnie Yen beraksi merupakan hiburan tersendiri. Asumsi aku, Wong Jing bertugas menangani aspek komedi, sedangkan agresi diserahkan kepada Kenji Tanigaki yang pernah terlibat sebagai stunt di film-film Hollywood mirip Mortal Kombat: Annihilation (1997) dan Blade II (2002). Kenji menggabungkan teknik bertarung raw milik Donnie Yen dengan spectacle berbumbu slapstick ala Jackie Chan, dibungkus koreografi serta gerak kamera yang cukup dinamis.
Puncaknya yakni titik puncak seru di Menara Tokyo, yang makin memuaskan berkat ikut sertanya Chloe, karena pada film aksi, tidak ada cara yang lebih baik untuk menyatukan sepasang kekasih dibandingkan menciptakan mereka menyatukan kekuatan dalam baku hantam. Apalagi sepanjang durasi, Niki Chow sudah berhasil menjadi salah satu penampil paling mencuri perhatian lewat kelucuannya. Selalu menyenangkan melihat seorang aktris cantik yang berani melakoni adegan-adegan memalukan demi memunculkan efek komedik. Sayang, di samping menit-menit awal dan selesai, Enter the Fat Dragon tak lebih dari tontonan monoton yang menyia-nyiakan potensinya.



Post a Comment
Post a Comment