Ads 720 x 90

Fiksioner Free Blogger Theme Download

Dignitate (2020)

Dignitate terperinci bukan persembahan terbaik seorang Fajar Nugros, tapi film ini menerangkan bahwa sang sutradara/penulis naskah telah memantapkan cirinya, terutama wacana mengocok perut penonton lewat “gojek kere”. Bahkan dalam karya terbarunya yang dipenuhi keklisean dramatisasi khas adaptasi dongeng Wattpad sampaumur ini, gaya tersebut tetap Fajar pertahankan dan berujung mengangkat kualitas Dignitate, walau alhasil tidak banyak yang mampu dilakukan, alasannya adalah beliau menerima bahan sumber yang terlanjur sukar diperbaiki.

Dikisahkan, Alana (Caitlin Halderman) terpaksa pindah ke sekolah gres akibat suatu alasan yang gres diungkap belakangan. Karena alasan itu pula mamanya (Izabel Jahja) bersikap (terlalu) protektif. Di kelas, Alana duduk sebangku dengan Alfi (Al Ghazali), siswa idola para siswi yang bukan cuma tampan, juga berotak encer. Walau demikian, sososk Alfi jauh dari kata ramah. Dia hanya fokus pada pelajaran, juga kerap berlaku kasar kepada perempuan, biarpun sahabatnya, Keenan (Teuku Ryzki), berulang kali memintanya berubah.

Tidak perlu menonton ribuan film atau membaca setumpuk novel sampaumur untuk tahu, walau awalnya selalu bertengkar, Alana dan Alfi nantinya akan saling cinta. Masalahnya adalah, mereka berdua sama-sama menyimpan kala lalu kelam. Dan bukan kisah Wattpad terkenal namanya, bila tidak ada twist berupa keterkaitan-keterkaitan yang didasari kebetulan-kebetulan menggelikan. Ditambah jajaran pemain berparas elok dan ganteng, bagi sebagian besar target pasarnya, Dignitate punya amunisi lengkap untuk menciptakan mereka berteriak histeris bahkan menangis.

Penonton di luar golongan tersebut mungkin juga bakal menangis. Menangis meratapi mengapa sampaumur kini menggilai dongeng semacam ini, yang seolah tidak lengkap jika ceritanya belum berlarut-larut guna memfasilitasi semua jenis penderitaan dan kesialan, yang memancing respon “Ya ampun kasihan banget!” atau “Ya Tuhan, bisa-bisanya....”. Apabila filmnya ditutup sekitar 10 menit lebih cepat, pasti hasilnya jauh lebih baik.

“Berlebihan” ialah kata yang paling pas menggambarkan alur Dignitate. Sangat berlebihan, niat baik memberikan pesan wacana “harga diri perempuan” tenggelam dan berhenti sebagai kalimat-kalimat kosong yang keluar dari ekspresi karakternya saja. Tapi selaku penulis naskah, Fajar Nugros memang tidak bisa berbuat banyak. Tuntutan setia terhadap bahan pembiasaan karya Hana Margaretha demi memuaskan penggemar tak bisa dikesampingkan, meski beberapa kebodohan semestinya bisa diperbaiki.

Hasil pencarian gambar di Google untuk kata "Alana" yang seluruhnya menawarkan wajah si karakter; mama Alana yang dengan gampang melunak walau gres sekali bertemu Alfi; bagaimana Alana mampu mendadak muncul di parkiran pada sebuah kejadian dramatis jelang selesai. Berbagai kejanggalan di atas bukanlah keabsolutan yang tidak mungkin dibenahi.

Tapi seperti telah disampaikan, untungnya Fajar melaksanakan satu “pemberian darurat” dengan cara menginjeksi humor-humor ringan andalannya, yang setia menyegarkan suasana di tengah tuturan dramanya. Tahun lalu Fajar juga sempat menggarap penyesuaian cerita Wattpad lewat MeloDylan, tapi keliarannya bagai tertahan. Sedangkan dalam Dignitate, tiap ada kesempatan, komedi selalu ditampilkan. Dan uniknya, ini termasuk salah satu presentasi komedi terbaik yang pernah Fajar lakukan. Materinya segar, timing penghantarannya tepat, dan jajaran pemainnya, termasuk Teuku Ryzki, Dinda Sunbulat Dewi, sampai dua langganan sang sutradara, yaitu Arief Didu dan Erick Estrada, bisa memanfaatkan kesempatan sesingkat apa pun.

Sedangkan pada dua bintang film utama, terjadi ketimpangan. Sewaktu penampilan Caitlin Halderman dapat dijabarkan menggunakan kata-kata yang mendeskripsikan “protagonis lovable” (lucu, bertenaga, menggemaskan, dan lain-lain), Al Ghazali belum berubah semenjak debutnya di Runaway enam tahun lalu. Gestur, mimik wajah, maupun luapan emosinya masih kaku. Mungkin ada unsur kesengajaan mengingat penokohan Alfi yang juga “kaku”, tapi itu bukan berarti sang pemain film harus bertingkah layaknya robot sepanjang durasi.

Related Posts

Post a Comment

Subscribe Our Newsletter