Ads 720 x 90

Fiksioner Free Blogger Theme Download

Girl On The Third Floor (2019)

Mantan megabintang WWE Phil Brooks alias CM Punk melakoni debut aktingnya sebagai seorang laki-laki yang mendefinisikan “toxic masculinity”. Dia membenci warna merah muda, menganggap pastur selalu berkelamin pria, menjustifikasi perselingkuhannya dengan berkata “I earned that” tatkala sang istri yang tengah hamil tua menafkahi dirinya. Girl on the Third Floor merupakan satu lagi horor generasi #MeToo yang vokal bersuara tanpa melupakan tugasnya menebar teror, meski paparan pesannya tak semulus keinginan.

Don Koch nama huruf yang diperankan CM Punk. Dia dan istrinya, Liz Koch (Trieste Kelly Dunn), baru saja membeli rumah di pinggiran kota Chicago. Don memilih merenovasi rumah itu sendiri, untuk sementara meninggalkan Liz yang sedang mengandung. Banyak yang harus diperbaiki, sebutlah tembok berlubang, pipa mampet, sampai langit-langit yang runtuh. Sementara Don kelabakan menangani renovasi, penonton pun pelan-pelan memahami jati dirinya, termasuk alasan pasangan suami-istri ini memutuskan pindah jauh dari kemewahan kota besar.

Dalam menulis naskahnya, sutradara Travis Stevens bersama Paul Johnstone dan Ben Parker pelan-pelan menyusun keping-keping soal Don. Praktis sekitar separuh awal digunakan sebagai studi huruf. Kita diberi kesempatan mengobservasi kepribadiannya, bahkan melalui hal-hal kecil yang terkesan remeh seperti komentar dengan nada bercanda. Dari sesosok suami dengan ketidaksempurnaan biasa (curi-curi kesempatan minum alkohol di belakang istri), semakin banyak informasi yang kita mampu, semakin terungkap kebobrokan Don, sama seperti diam-diam gelap rumahnya yang usang-usang terungkap.

Sebagai bagian subgenre horor ialah haunted house, rumah di sini bukan sebatas latar, melainkan entitas tersendiri. Melalui lendir-lendir yang keluar dari berbagai perabot atau lubang-lubang hitam misterius, rumahnya seolah hidup. Hidup dengan cara menelan kegelapan dalam diri para penghuni rumah yang gagal mereka tahan. Baik Don maupun rumanya, sama-sama mengungkap sisi gelapnya begitu masing-masing dipugar dan “ditelanjangi”. Khusus bagi Don, sisi itu makin terpampang kasatmata semenjak kehadiran gadis elok bernama Sarah (Sarah Brooks).

Memerankan suami bermasalah, CM Punk punya poin kasatmata serta negatif dalam performanya. Sewaktu dituntut menciptakan gestur dan mulut kecil atau malah sekadar berdiam diri, dia punya kebrengsekan alami yang membuat figurnya meyakinkan. Sebaliknya, kala diharuskan berakting lebih “besar”, kealamian tersebut hilang, digantikan oleh penampilan serba berlebihan sebagaimana yang kerap ditampilkannya di atas ring. Meski demikian, gaya akting itu justru cocok dikala diterapkan begitu filmnya memasuki paruh kedua dan meninggalkan fase studi aksara untuk menggila di jalur kebrutalan khas b-movie.

Bagi yang menerka Girl on the Third Floor bakal tancap gas semenjak dini mungkin akan merasa terkecoh, karena dalam debut penyutradaraannya, Travis Stevens menerapkan teknik slow burn. Terkadang pemandangan berulang seperti lelehan lendir atau kelereng yang menggelinding terkesan repetitif, tapi Stevens punya bakat merangkai tuturan bertempo agak lambat biar tetap dinamis, tak monoton, juga nyaman diikuti. Stevens tidak menyeret film, melainkan menuntunnya dengan sabar tapi pasti.

Barulah melewati paruh kedua, Girl on the Third Floor mulai habis-habisan membuka tirai neraka berwujud rumah mengerikan lewat parade gambar-gambar disturbing pula menjijikkan, dan tentunya sadisme berdarah yang beberapa di antaranya terasa menyakitkan. Travis Stevens punya visi meneror mumpuni, tapi kebanggaan tinggi juga mesti dialamatkan kepada penata efek spesial Dan Martin (Isle of Dogs, Nina Forever, Free Fire) yang memalingkan pilihan ke efek praktikal ketimbang CGI. Dampak terornya jauh lebih tinggi dan nyata, sekaligus mengingatkan akan kurun kejayaan horor-horor klasik era 80-an.

Sebagai horor tidak banyak kelemahan dimiliki filmnya, namun terkait penghantaran pesan seputar info gender, penulisannya cukup bermasalah. Ini ialah dongeng wacana manusia yang ditelan kegelapan dirinya. Tentang bagaimana beliau dihadapkan pada dua pilihan kemudian secara sadar menentukan kegelapan itu, dan secara khusus tentang hukuman terhadap toxic masculinity

Sehingga, keputusan mematikan beberapa tokoh patut dipertanyakan. Apakah mereka diuji? Tidak. Apakah mereka diperlihatkan menghadapi kegelapan diri? Tidak juga. Alhasil, timbul kesan kalau para penulis kehabisan nalar guna menambah kuantitas teror justru mengakibatkan inkonsistensi. Ketika sebuah film berusaha melontarkan pesan tertentu, inkonsistensi macam itu terperinci sukar ditoleransi. Tapi kesampingkan itu dan bersabarlah mengikuti paruh awalnya, maka Girl on the Third Floor adalah horor disturbing yang mengasyikkan.

Related Posts

Post a Comment

Subscribe Our Newsletter