Bombshell. Membaca judul tersebut, apa yang terlintas di benak anda? Pasti tidak akan jauh-jauh dari bombastis, eksplosif, dan melesat cepat. Filmnya sendiri digarap demikian. Dipacu kencang, penuh penyuntingan liar demi merangkum setumpuk problem yang melibatkan begitu banyak nama. Tidak mengejutkan, alasannya penulis naskahnya, Charles Randolph, merupakan co-writer dari The Big Short (2015). Bahkan di sini mampu ditemukan pula adegan breaking the fourth wall kala Megyn Kelly (Charlize Theron) membawa penonton mengelilingi kantor Fox News.
Tapi perlukah keliaran itu? Sayangnya tidak. Apalagi periode sutradara Jay Roach (trilogi Austin Powers, Trumbo), yang belakangan meninggalkan skena komedi untuk menjajal ranah drama biografi, belum begitu lihai menangani gaya tutur semacam itu. Tapi bukan berarti Bombshell buruk. Daya hiburnya memadai, punya beberapa poin memukau, termasuk transformasi Theron menjadi Kelly—si pembaca isu kontroversial yang di awal film terlibat perselisihan dengan Donald Trump abad mengonfrontasi pernyataan seksisnya mengenai wanita—lewat riasan prostetik memukau buatan (The Great) Kazu Hiro, serta akting solid sang aktris sendiri.
Theron mengatur suaranya agar terdengar serak, memancarkan kharisma dan kekokohan yang mampu menciptakan seisi ruangan beliau memperhatikan kata-katanya. Sosoknya sulit dikenali sekalipun anda mengetahui partisipasinya di film ini. Melalui unggahan di Instagram miliknya, Kelly bercerita bagaimana puteranya resah ketika melihat wajah sang ibu di poster Bombshell. Mungkin peristiwa itu benar adanya. Bahkan berkat penampilan Theron, mampu jadi banyak penonton melupakan sisi kontroversial Kelly di dunia aktual.
Tapi serupa kalimat epilog filmnya, kita tidak harus menyukai para perempuan ini. Kita cukup percaya atas dongeng mereka. Cerita soal pelecehan seksual yang mengakar dan membudaya di Fox News, khususnya yang dilakukan oleh sang bos, Roger Ailes (John Lithgow). Ailes kerap melontarkan pernyataan ofensif, menyuruh para pembaca gosip wanita mengenakan gaun sependek mungkin, sampai melaksanakan pelecehan fisik di ruangannya. Semua bungkam. Ada yang memang terbutakan oleh “kemurahan hati” Ailes termasuk beberapa perempuan yang getol mendukungnya, ada pula yang menghkawatirkan keberlangsungan karirnya.
Salah satu korbannya adalah Kayla Pospisil (Margot Robbie), seorang abjad fiktif yang berasal dari keluarga Kristen konservatif dan bercita-cita menjadi pembaca info di Fox. Robbie paling bersinar di dua momen. Pertama, saat tangis Pospisil pecah kala menghubungi rekan kerjanya, Jess Carr (Kate McKinnon). Kedua, sewaktu dia jadi korban nafsu Ailes. Bagaimana Robbie tampak menahan ketakutan yang faktual, memperkuat suasana menyesakkan yang berhasil dibangun Jay Roach dengan meniadakan musik.
Nasib Gretchen Carlson (Nicole Kidman) menyerupai sebuah peringatan bagi mereka yang ingin mengungkap tindakan Ailes. Sempat membawakan program ternama Fox and Friends, beliau dipindahkan ke acara tak popular di sore hari sebab dianggap membangkang. Dari verbal Kidman, bahkan saat Carlson memaksakan senyum pun, kita mampu mencicipi amarah yang berkecamuk dalam batinnya. Akhirnya Carlson menolak membisu, lalu mendatangi pengacara guna merencanakan tuntutan aturan terhadap pelecehan yang diperbuat Ailes. Tapi prosesnya tidak mudah. Sebab kembali, kesannya tidak main-main.
Randolph sempat menampilkan sebuah insiden miris sekaligus menggelitik, sewaktu jajaran pembawa acara wanita Fox menyampaikan sangkalan mereka atas tindakan Ailes, sembari sibuk berusaha mengamankan tubuh mereka yang dipaksa diobral di layar beling. Situasi tersebut menggambarkan kegelisahan luar biasa. Kegelisahan akibat badan mereka dieksploitasi, pula kegelisahan perihal menawarkan legalisasi jujur. Dilema itu menarik dieksplorasi, namun paparannya cuma hadir di permukaan via gugusan dialog eksposisi. Padahal bayangkan saja, betapa besar film ini bisa berdampak pada dunia kasatmata untuk mendukung keberanian korban-korban pelecehan mengungkap kebusukan si pelaku.
Potensi menggali lebih dalam karam oleh keliaran progresi cerita dan pengadeganan. Deretan kejadian gagal dipresentasikan secara rapi, berondongan obrolan dilepaskan membabi buta, sementara tokoh-tokoh datang dan pergi. Bombshell membutuhkan lebih banyak suntikan rasa ketimbang gaya. Beruntung, di beberapa titik terbaiknya, film ini bisa bersinar. Momen uplifting kala para perempuan akhirnya menentukan untuk melawan, sedikit kejutan apabila anda tidak sepenuhnya mengikuti perkembangan proses hukum Ailes, juga konklusi bernada kasatmata yang tetap menyiratkan kengerian berupa siklus seksisme yang tak kunjung menampakkan ujung.



Post a Comment
Post a Comment