“Memindahkan Alien (1979) karya Ridley Scott ke bawah maritim” merupakan misi Underwater. Karena baik di luar angkasa maupun dasar samudera, tidak ada yang bisa mendengarmu berteriak. Anda pun mampu menemui jump scare berupa monster kecil melompat dari tubuh korban layaknya chestburster (bedanya, di sini lewat punggung alih-alih dada), dilanjutkan oleh analisa karakternya terhadap si monster di atas meja berwarna putih. Referensinya sudah tepat, namun penggarapan keseluruhannya belum.
Kru sebuah proyek pengeboran bawah laut dikejutkan saat laboratorium mendadak bocor, menghancurkan hampir segalanya, membunuh secara umum dikuasai manusia di dalamnya. Ada beberapa penyintas, sebutlah sang Kapten (Vincent Cassel); Paul (T.J. Miller) yang eksentrik dan selalu membawa boneka kelinci bernama “Lil Paul”; Emily (Jessica Henwick) yang dikuasai ketakutan; Liam (John Gallagher Jr.) yang membisu-membisu meyukai Emily; serta protagonis kita, Norah (Kristen Stewart dengan model rambut yang mengingatkan akan Sigourney Weaver di Alien 3), seorang teknisi yang menyebut dirinya sendiri sebagai seorang pesimis.
Mudah ditebak, terkait pengembangan huruf, naskah buatan Brian Duffield (Insurgent, The Babysitter) dan Adam Cozad (Jack Ryan: Shadow Recruit, The Legend of Tarzan) hendak memaparkan perjalanan Norah, dari seseorang yang pesimis, pasrah, dan senantiasa diam, sampai karenanya bersedia melaksanakan sesuatu demi perubahan. Betul bahwa kedua penulis memberi alasan di balik sikap Norah, menurut suatu peristiwa tragis di kala lalunya. Tapi alasan tersebut sebatas hiasan minim eksplorasi, pun proses perubahan Norah tidak dibarengi tahapan-tahapan meyakinkan. Terkesan, beliau mendadak berubah sikap di simpulan dongeng.
Tapi kekurangan itu, maupun kritik sambil kemudian terkait perusakan alam oleh insan, bisa dimaafkan, andai Underwater sebagai berhasil memenuhi tugasnya sebagai horor: menakut-nakuti. Di sini kegagalan “memalsukan” Alien tampak terang. Sama-sama menyembunyikan monsternya di dominan durasi, film ini lupa mengatur atmosfer sekaligus membuat tiap ajal aksara meninggalkan efek. Menyusuri dasar bahari gelap dan reruntuhan laboratorium sempit memang acara klaustrofobik, namun bukan berarti, semakin sering menampilkan karakternya berjalan, berenang, dan mengambang di kegelapan otomatis memperkuat atmosfer.
Berjalan, berenang, berbicara, berjalan, berenang lagi. Pemandangan itu mendominasi Underwater. Membosankan. Bisa tertolong, andai William Eubank (Love, The Sigal) selaku sutradara piawai mengatur suasana serta intensitas. Sayangnya tidak. Saat tidak terjadi hal signifikan di layar, tak sedikit pun yang mampu penonton nikmati, pun tatkala teror mulai mengancam, ketegangannya hilang balasan pemakaian shaky cam memusingkan ditambah gerak lambat—yang meski terlihat cukup anggun—nihil substansi, bahkan tak jarang menggelikan. Soal metode menghabisi karakternya, Eubank terbatasi rating PG-13, di mana formasi ajal brutal banyak terjadi di balik layar.
Kualitas CGI-nya, dibantu banyak imbas praktikal, tergolong solid, meyakinkan dalam membangun kehancuran-kehancuran bawah laut, walau pujian serupa tidak bisa diberikan terkait penampakan monsternya. Ada tiga jenis makhluk. Demi menghindari spoiler, mari sebut saja “monster 1”, “monster 2”, dan “monster 3”. Monster 2 punya generik, serupa gugusan monster-monster kebanyakan di film bertema serupa, jauh dari kesan menyeramkan. Karena mereka yang paling sering kita temui sekaligus mempunyai jumlah terbanyak, seberapa besar efek kehadiran Monster 2 berifat esensial bagi keberhasilan Underwater. Artinya sederhana. Filmnya gagal.
Monster 3 paling intimidatif, paling berkesan, pula melahirkan satu-dua momen menegangkan jelang selesai yang bisa menggiring penonton membayangkan betapa mengerikannya kalau harus berhadapan langsung dengannya. Tapi statusnya sebagai “big boss” sekaligus keterbatasan dana membatasi kuantitas kemunculannya, sehingga belum cukup mengatrol daya bunuh Underwater, sekalipun sudah ditambah kemampuan Kristen Stewart menyeimbangkan kontemplasi dan ketangguhan sesosok jagoan.



Post a Comment
Post a Comment