Sutradara Hanny R. Saputra (Heart, Sajen, Bisikan Iblis) bersama duo penulis naskah langganan rumah produksi RA Pictures, Demas Garin dan Talitha Tan, berniat menyalurkan kecintaan (?) mereka terhadap mahakarya Alfred Hitchcock, Psycho. Beberapa adegan (contoh: kematian Milton Arbogast di tangga) direka ulang, elemen gangguan mental digunakan, bahkan twist di pertengahan durasi yang mengubah drastis arah film turut diterapkan. Tapi “peniruan” tersebut hanya di kulit luar semata, sedangkan hal fundamental justru dilupakan.
Hitchcock tidak berusaha terlihat keren. Sang maestro melakukan hal-hal kecil substansial yang berdampak besar. Sebaliknya, 4 Mantan cuma berkutat di kebombastisan. Diawali secara kacau oleh sekuen pembuka carut-marut yang tampak mirip trailer berserakan ketimbang adegan sungguhan, kemudian disusul momen-momen penyutradaraan canggung yang terkesan amatiran, film ini mulai menemukan pijakan tatkala misteri mulai menyelimuti. Dikisahkan, pasca pemakaman cowok berjulukan Alex (Jeff Smith), terjadi pertemuan empat perempuan yang rupanya sama-sama mantan almarhum, yang dipacarinya di waktu bersamaan.
Sara (Ranty Maria) si musisi yang mesti merawat sang ibu, Airin (Melanie Berentz) si gadis tangguh, Rachel (Melayu Nicole) si model berkemampuan Bahasa Inggris jelek (entah disengaja atau tidak), dan Amara (Denira Wiraguna) si pelayan cafe. Kematian tidak masuk akal sang mantan menyatukan mereka, terlebih saat masing-masing mendapatkan surat misterius dari Alex, yang menyatakan bahwa ia dibunuh oleh salah satu di antara keempatnya.
Bergerak cepat, tanpa banyak basa-kedaluwarsa, pula rutin mengundang pertanyaan-pertanyaan yang kerap bermuara pada kejutan, 4 Mantan sempat berhasil mementahkan keraguan di separuh pertama durasi. Walau penyelipan paksa elemen supernatural berupa deretan jump scare medioker demi memfasilitasi kegemaran penonton umum untuk dikageti oleh penampakan hantu terasa mengganggu, intensitasnya bisa terjaga berkat pengolahan misteri yang cukup baik. Ekspektasi kerap dibantah, dongeng bergerak ke arah yang tak terduga bakal dijamah.
Pun segelintir informasi sosial sempat disinggung, meski ada yang tak dieksplorasi lebih jauh (bulimia) dan ada pula yang penyampaiannya terlampau on the nose (soal pelecehan, khususnya di konklusi). Semakin jauh misteri bergerak, semakin saya dibentuk bersemangat sembari bertanya-tanya, “Bagaimana kiranya Hanny dan tim akan menjawab semua ini?”. Sayang, begitu memasuki paruh kedua tatkala balasan dipaparkan, yang tersisa justru kekecewaan.
4 Mantan menghabiskan sekitar setengah jam terakhir hanya untuk mengupas semua kebenaran. Misteri tidak tersisa, alur menjadi stagnan. Mengapa perlu selama itu untuk mempresentasikan balasan? Karena kembali pada apa yang telah disinggung di atas, film ini berambisi tampil bombastis, ketika memasukkan kejutan berbasis versi modifikasi dari elemen psikologi yang jamak dipakai di banyak horor/thriller.
Sayangnya bukan modifikasi nyata. Unsur psikologisnya mustahil dan penuh keasalan. Di ranah film genre, ketepatan keilmuan memang bukan kewajiban, hanya saja, 4 Mantan tidak dibarengi kreativitas memadai supaya menjadi “fantasi” mumpuni, juga tanpa kesolidan bercerita. Naskahnya tersesat sendiri dalam kerumitan ambisius yang coba dibangun, sehingga pemaparannya berlarut-larut. Berniat memuaskan dahaga penonton arus utama kekinian atas twist yang identik dengan status “film keren”, 4 Mantan malah berpotensi membingungkan mereka. Setidaknya cukup mengasyikkan melihat Jeff Smith karenanya tidak cuma memasang satu ekspresi datar sepanjang film.



Post a Comment
Post a Comment