Masih segar di ingatan ketika April tahun lalu, pesimisme terhadap proyek live action ini mencapai puncak, setelah trailer perdana Sonic the Hedgehog mendapatkan respon luar biasa negatif balasan desain “realistis” si landak biru. Entah bagaimana karenanya jikalau pihak studio menutup mata atas protes tersebut, tapi proses desain ulang dengan penambahan biaya $5 juta serta penundaan tanggal tayang selama tiga bulan sepertinya membuahkan hasil konkret.
Dari sisi komersil, raupan $86,7 juta menempatkan filmnya di posisi puncak daftar film pembiasaan permainan video berpendapatan terbesar pada opening weekend di Amerika Serikat dan Kanada. Sedangkan soal kualitas, Sonic the Hedgehog memang tidak memberi warna baru, tapi sebagai tontonan semua umur, akibatnya cukup menghibur, bahkan di luar dugaan, tidak melupakan hati dalam penuturannya.
Sonic (Ben Schwartz) terpaksa meninggalkan planetnya sesudah kecepatan supersonik miliknya diketahui suku echidnas (jangan berharap ada Knuckles di sini). Memakai cincin ajaib sumbangan penjaganya, Longclaw si burung hantu (Donna Jay Fulks), Sonic kabur ke Bumi. Satu dekade berselang, dia menetap di gua persembunyiannya, yang terletak bersahabat kota kecil yang tenang, Green Hills. Tinggal sendirian, Sonic semakin akrab dengan kesepian dan mulai mengharapkan adanya sesosok teman.
Tapi nyawanya justru terancam, setelah suatu malam Sonic tidak sengaja melepaskan kekuatannya, yang mengakibatkan padamnya seluruh listrik di area Pacific Northwest. Pemerintah mengirim Dr. Robotnik (Jim Carrey) si ilmuwan jenius aneh pemilik IQ 300, untuk melakukan pemeriksaan. Sonic kembali harus terus berlari dan berlari, namun kali ini ia tidak sendiri. Tom Wachowski (James Marsden), Sheriff setempat yang bosan dengan minimnya agresi kriminal serius di Green Hills, (terpaksa) turut serta.
Tidak sulit menebak ke mana duo penulis naskah, Jeff Fowler dan Patrick Casey bakal mengarahkan kisahnya. Sonic akan menemukan sahabat dalam diri Tom, sementara berkat Sonic, Tom akan menyadari betapa berharganya rumah beserta orang-orang tercinta yang ada di sana. Tapi paling penting bukanlah destinasi, melainkan perjalanannya. Pertemanan keduanya terjalin dinamis berkat performa masing-masing pemeran, meski banter berbasis selorohan komedik mereka tidak ditulis secara solid, sehingga kelucuan kerap gagal tercipta.
James Marsden tidak canggung berinteraksi dengan aksara CGI, sedangkan Ben Schwartz memberi kepribadian serta nyawa bagi Sonic melalui suaranya, yang diperkuat oleh desain abjad yang setia pada bahan asalnya. Tidak semua makhluk atau benda perlu tampil realistis, apalagi di dunia berisi alian berwujud landak biru berkekuatan supersonik yang mampu bicara. Belum lagi membahas elemen fantasi lain. Pada dunia semacam itu, figur cartoonish Sonic sebagaimana dalam gim jauh lebih sesuai.
Walau bukan fokus utama, aku mengapresiasi penggambaran kekerabatan Tom dan sang istri, Maddie (Tika Sumpter). Akibat menolong Sonic, Tom dituduh sebagai teroris (persoalan yang nantinya selesai terlalu gampang). Di banyak film, mungkin Tom bakal terus menyembunyikan eksistensi Sonic, memantik kesalahpahaman Maddie, sehingga berujung memperpanjang konflik di antara mereka. Tidak di Sonic the Hedgehog. Hubungan saling dukung keduanya yang sudah dibangun semenjak awal, terus dipertahankan, bahkan kemudian bekerja sama. Cukup hangat, biarpun tidak sehangat momen sewaktu Jojo (Melody Niemann), keponakan Maddie, menunjukkan sepatu merah kepada Sonic.
Presentasi agresi sutradara Josh Miller tak sepenuhnya berhasil memaksimalkan potensi eksplosif dari kekuatan Sonic. Penggarapannya masih kekurangan tenaga. Setidaknya ada satu sekuen aksi menarik saat Dr. Robotnik memamerkan robot unik dengan konsep ala russian doll (robot dalam robot). Beruntung, asupan tenaga itu mampu disuplai oleh penampilan Jim Carrey yang alhasil kembali memerankan sosok manik. Belum setingkat periode kejayaannya sebagai Si Muka Karet, tapi keeksentrikan Carrey lewat absurditas gerak dan verbal serta reaksi-reaksi yang sukar diprediksi, lumayan mengobati kerinduan.



Post a Comment
Post a Comment