Toko Barang Mantan relevan untuk abad kini, di mana kata “mantan” dipandang begitu dramatis, sementara keambyaran diagungkan. Kisahnya tentang Tristan (Reza Rahadian) si “mahasiswa abadi” yang rela meninggalkan kuliah demi mengelola Toko Barang Mantan. Seperti namanya, toko ini melayani jual-beli barang-barang kenangan pertolongan mantan. Bila sunguh-sungguh ada di dunia positif, mungkin toko ini sudah viral. Tapi tidak di filmnya. Bahkan Tristan hingga kesulitan membayar sewa gedung.
Kenapa? Mungkin balasan kengototan Tristan untuk tidak berpromosi lewat media sosial. Menurutnya, proses tatap muka antara penjual dan pembeli wajib terjadi, demi pemaknaan mendalam terhadap barangnya. Mungkin juga alasannya adalah sebagai seseorang yang tidak percaya cinta, bahkan sampai menyebutnya “tai kucing”, Tristan tidak cocok menjalankan bisnis ini. Kaprikornus bagaimana mampu sosok skeptis sekaligus idealis tampaknya terpikir akan konsep tersebut? Konsep yang semestinya hanya dipedulikan oleh mereka yang memuja cinta (terkadang secara berlebihan) beserta segala kenangannya.
Inkonsistensi itulah kelemahan terbesar Toko Barang Mantan. Penceritaan, yang dimotori Viva Westi (Jenderal Soedirman, Koki-Koki Cilik 2) di dingklik sutradara dan Titien Wattimena (trilogi Dilan) selaku penulis naskah, memang tak sebegitu solid. Tampak dari beberapa menit awal yang berlangsung cepat cenderung buru-buru, berantakan, dan sulit diikuti. Satu per satu konsumen mengunjungi Tristan dan dua karyawannya, Rio (Iedil Dzuhrie Alaudin) dan Amel (Dea Panendra), guna menjual barang pertolongan mantan masing-masing, yang juga memfasilitasi penampilan gugusan cameo.
Humor absurd mengiringi kemunculan tiap konsumen, yang sejatinya tidak dibarengi materi dasar besar lengan berkuasa, namun setidaknya berhasil memancing senyum berkat penampilan maksimal jajaran cast, di mana mereka tak jarang melaksanakan improvisasi, yang berjasa memperkuat kesan organik. Nanti aku bakal membahas Reza Rahadian, tapi pertama-tama kebanggaan harus diberikan kepada Dea Panendra, yang sekali lagi melahirkan karakter pendukung memorable. Asyik, sesekali menggelitik, pun berperan menambah bobot emosi kurun melakoni adegan dramatis.
Kealamian akting juga memegang kunci dalam presentasi romansa Tristan dan Laras (Marsha Timothy). Laras merupakan mantan Tristan semasa kuliah. Bisa dibilang mantan terindah, karena sampai kini, Tristan masih menyimpan perasaan. Tapi reuni keduanya dibarengi hal mengejutkan, dikala Laras memberikan seruan pernikahan. Dahulu, Laras pergi alasannya Tristan selalu enggan mengucap kata “cinta”. Sekarang permasalah serupa lagi-lagi jadi penghalang usaha Tristan merebut kembali hati sang mantan.
Penokohan Tristan dan Laura yang sama-sama keras, memproduksi dinamika berupa naik-turun rasa yang amat diperlukan sajian romansa. Rasa anggun ketika keduanya saling menarik hati, atau kepedihan sewaktu pertengkaran pecah, semua terasa nyata berkat penampilan Reza dan Marsha yang memang “positif”. Di satu titik, Tristan mengutarakan kekagumannya atas respon malu-malu Laras. Di situ, Marsha bisa menunjukkan bagaimana seseorang yang sedang jatuh cinta dibentuk tersipu mendengar gombalan-gombalan, yang walau ditampik oleh otak, nyatanya menciptakan hati tidak karuan.
Saya selalu lebih menyukai penampilan Reza di film-film sederhana mirip ini ketimbang transformasi ekstrim yang kerap ia lakukan. Karena seperti sudah sering saya sampaikan di ulasan-ulasan lain, minimal di generasi ini, tidak ada pelakon lain yang sebaik Reza dalam urusan kreativitas mengolah emosi, memainkan intonasi, dan mengeksplorasi ragam agresi-reaksi dikala berakting. Natural sekaligus jauh dari monoton.
Viva Westi sadar betul kapasitas kedua pemain utamanya, lalu menggantungkan semua urusan membentuk rasa kepada mereka. Tidak banyak modifikasi atau inovasi di pengadeganan. Kamera lebih sering mengambil posisi close up biar menangkap verbal bintang film semaksimal mungkin. Dan itu bukan persoalan, melainkan keberhasilan memanfaatkan potensi. Satu-satunya kelemahan yaitu, begitu konfik memanas meningkat, sutradara terlalu bergantung pada peningkatan intensitas melalui tabrak teriakan. Tapi itu pun bukan dosa besar. Tidak sebesar dosa mantan yang meninggalkan kita saat sedang sayang-sayangnya.



Post a Comment
Post a Comment