Satu lagi romansa SMA penyesuaian Wattpad, dan sekali lagi aku merasa semakin beranjak renta, tidak lagi “sedrama” tokoh-tokohnya, yang memandang pengunduran diri ketua MOS ketika acara itu hamper berakhir sebagai kejadian dramatis yang patut ditangisi. Tapi memang begini skena cerita remaja kita. Senior, yang mengadaptasi kisah berjudul sama karya Kata Kokoh, berpeluang memvariasikan problematikanya, hanya untuk kembali lagi bermain kondusif sesuai “tradisi”.
Aluna (Rebecca Klopper), bersama sobat-sahabatnya yang menamakan diri geng Barudak Swag, baru saja memulai kehidupan mereka di Sekolah Menengan Atas. Adegan pembukanya memperkenalkan satu per satu anggota geng beserta ciri masing-masing, seolah bakal memberi tiap karakteristik itu proporsi signifikan, hanya untuk lalu meninggalkannya di luar gerbang sekolah. Siapa menjadi siapa dan mirip apa, sulit mengingatnya, bahkan sebelum film usai.
Selama MOS, sudah tentu Aluna mesti berurusan dengan para senior, khususnya Nakula (Jerome Kurnia) ketua panitia yang dikenal tegas, walau beliau sendiri mengusulkan program orientasi yang tak menerapkan kekerasan fisik. Serupa urusan karakterisasi di atas, naskah garapan Bagus Bramanti (Kartini, Dear Nathan, Yowis Ben) berpotensi membahas isi penting terkait kekerasan dalam ospek, tapi menentukan menjadikannya pernak-pernik sambil lalu belaka.
Aluna kerap jadi bulan-bulanan Nakula, membuatnya kesal pada si senior. Sial bagi Aluna, dia mesti tinggal seatap bersama Nakula selama beberapa hari. Alasannya, ibu Nakula (Karina Suwandi) harus terbang ke Sevilla bersama ibu Aluna (Aida Nurmala), yang rupanya yakni pengacaranya, guna menyelesaikan urusan darurat yang dirahasiakan. Bisa ditebak, berikutnya ialah proses benci jadi cinta, sewaktu Aluna menyadari bahwa Nakula tak seburuk perkiraannya.
Masalahnya, Barudak Swag membenci Nakula. Apalagi para cowok, yang mengancam cewek-cewek, termasuk Aluna, untuk mengeluarkan dari geng siapa saja yang menyukai Nakula. Konflik berlebihan begini wajar terjadi di individu usia sampaumur awal. Tapi seiring berjalannya durasi, perilaku mereka makin keterlaluan, sampai menyentuh ranah toxic friendship. Barudak Swag membenci Nakula yang dianggap semena-mena, namun mereka berlaku serupa.
Ketika romansa Sekolah Menengan Atas lain cenderung mengagungkan persahabatan, Senior mampu saja mengajak penonton menatap realita, bahwa terkadang, orang-orang mengatasnamakan pertemanan sebagai kedok egoisme. Walau sempat menyenggolnya lewat keluhan Nakula pada Aluna, naskahnya tidak cukup berani menyampaikan itu secara lantang, kemudian memilih jalur kondusif di konklusi. Tapi bukankah itu memang bab novel? Kalau ada pernyataan demikian, mari kita kembali pada teks yang ditampilkan sebelum film mulai, bahwa “Pasti ada perbedaan dari novel. Karena itu film penyesuaian dibuat. Kalau sama, untuk apa diadaptasi?”. Jadi untuk apa pembiasaan ini dibentuk?
Di luar itu, sejatinya Senior bergulir cukup mulus. Indra Gunawan (dwilogi Dear Nathan) merupakan sutradara yang sekilas tidak menonjol sebab urung menerapkan gaya-gaya unik, tapi bisa bercerita dengan rapi, pun jeli membungkus momen dramatis semoga tampil natural. Penampilan dua pemain utama turut menyokong penuturan romansanya. Jerome dan Rebecca ialah kombinasi yang pas. Ketika Jerome tampil santai, melakoni tugas remaja gentle tanpa harus terlihat kaku, Rebecca sebaliknya, bertenaga, cerah, ceria, pun sesekali berjasa memancing tawa geli.
Kelancaran bertutur itu sayangnya gagal dipertahankan hingga babak ketiga, saat semua bergerak terburu-buru, seolah naskahnya kerepotan merangkum isi novel yang masih banyak tersisa dengan sisa durasi tak seberapa. Mendadak Nakula menyatakan cinta, mendadak konflik Barudak Swag mencapai puncak akibat suatu kebetulan, mendadak tercipta perdamaian sehabis Nakula, di tengah kecemasannya mencari telepon genggam yang hilang, masih sempat membaca surat yang tersimpan di jaketnya, sebelum kisahnya ditutup lewat keputusan ekstrim salah satu protagonist, yang tiba-datang berubah sikap.
Mungkin tetap bakal keluar pernyataan, “Tapi ini kan romansa Sekolah Menengan Atas, masuk akal punya kekurangan-kekurangan di atas”. Tidak sepenuhnya keliru. Masalahnya, kita sudah mendengar pemakluman itu selama bertahun-tahun. Mau sampai kapan terus begini? Mau sampai kapan sampaumur kita terus dibiarkan terbuai oleh kesepakatan elok palsu sebuah toxic friendship?



Post a Comment
Post a Comment