Perwakilan Kirgiztan di ajang Oscar tahun 2020 ini dibuka oleh adegan ketika seorang wanita paruh baya duduk, mendengarkan siaran radio mengenai perdebatan soal poligami. “Perlukah suami meminta persetujuan istri pertama?”, demikian ucap sang penyiar radio. Pembukaan ini eksklusif mencengkeram sekaligus memancing ekspektasi bahwa Aurora yaitu tuturan perihal wanita. Saya keliru. Bahkan semua ekspektasi yang dibangun selama 98 menit durasinya, selalu terbantahkan.
Selepas pembukaan itu, filmnya menampilkan rangkaian rekaman acara televisi, salah satunya ihwal Aurora, sebuah sanatorium yang sudah bangkit sejak periode pendudukan Uni Soviet. Segera, kisahnya berpindah ke sana, menampilkan peristiwa-peristiwa terpisah yang dipaparkan secara episodik. Perdebatan konyol perempuan dengan bartender perihal nama panggilan, laki-laki yang meminta pembawa program televisi veteran supaya merekam video bagi ibunya, dan lain-lain, yang bakal jadi spoiler kalau diungkap.
Jangan percaya kepada apa yang nampak di permukaan. Sutradara sekaligus penulis naskah debutan, Bekzat Pirmatov, selalu menyiapkan kejutan-kejutan, yang tetap sulit diduga bahkan setelah anda memahami pola penceritaan twisty-nya, berkat visi absurd Pirmatov. Bahkan kita digiring mempertanyakan bagaimana bergotong-royong korelasi para tokoh yang sekilas tak saling kenal itu.
Ragam bentuk komedi menemani perjalanan liar filmnya, dari komedi verbal berbasis obrolan konyol yang dibungkus kolam interaksi serius, komedi hitam, slapstick, atau malah gabungan semuanya. Penyutradaraan Bekzat Pirmatov memastikan kisahnya bergerak penuh energi, sedangkan kejutan absurdnya menghentak bak hantaman keras ke wajah penonton.
Awalnya, tuturan episodik Aurora gampang dan nyaman dinikmati berkat penulisan rapi Pirmatov, tapi memasuki paruh kedua, tatkala satu demi satu kejutan terungkap, tiap dongeng mulai menampakkan kebenarannya, dan keliaran makin menjadi-jadi, filmnya menjadi kusut. Terlalu banyak fakta gres, aksara baru, atau huruf usang yang melakoni “peran gres”, tersaji dalam waktu singkat tanpa memberi penonton waktu memprosesnya. Menurut Bekzat Pirmatov, tiap permasalahan di sanatorium mencerminkan kondisi Kirgiztan, namun paparan terkait subteks itu terlampau samar, karam dalam kejutan-kejutan gilanya, sehingga bakal sulit disadari penonton, khususnya yang berasal dari luar Kirgiztan.
Apa yang bekerjsama terjadi? Sekadar kebetulan-kebetulan? Parallel universe? Perjalanan waktu sebagaimana diungkapkan oleh trio pemakai ganja di pertengahan film? Atau lainnya? Tapi pertanyaan berikutnya, “Perlukah mengetahui kebenaran bahu-membahu?”. Apakah Aurora harus dimengerti untuk dapat dinikmati? Jawabannya “Tidak”. Sebab formasi tanda tanya miliknya, yang mungkin takkan sepenuhnya terjawab, menyimpan daya tarik tinggi bagai magnet.



Post a Comment
Post a Comment