Ads 720 x 90

Fiksioner Free Blogger Theme Download

Jaff 2019 - Liway

Saya tertarik menonton film independen asal Filipina ini sesudah membaca tentang respon luar biasa para penonton. Bahkan dikala diputar di ekspo Cinemalaya tahun kemudian, begitu kredit bergulir, penonton bertepuk tangan, meneriakkan jargon perjuangan, juga menyanyikan lagu bernada protes. Mengangkat dongeng faktual kehidupan para tahanan yang meletuskan pemberontakan terhadap tirani Ferdinand Marcos, aku menerka bakal disuguhi tontonan politis. Rupanya Liway yaitu drama keluarga yang lebih personal.

“Liway” merupakan julukan bagi Ceilia Flores-Oebanda alias Day (Glaiza de Castro), salah satu pentolan perjuangan New People’s Army dalam usaha menggulingkan pemerintahan Marcos. Setelah bergerilya di hutan, Komandan Liway ditangkap, dijebloskan ke penjara bersama suaminya, Ric alias Komandan Toto (Dominic Roco). Putera mereka, Dakip (Kenken Nuyad) lahir dan tumbuh di penjara tanpa pernah tahu kondisi di luar.

Biarpun diperlakukan secara manusawi, hidup di penjara jelas bukan masalah mudah, khususnya bagi bocah mirip Dakip. Day pun berusaha sekuat tenaga menjaga semoga puteranya bisa hidup senormal mungkin, membuatnya senang, termasuk dengan menceritakan kisah-kisah rakyat, salah satunya mengenai Liway, dewa penjaga dari Gunung Kanlaon, yang mana merupakan versi fiktif dari cerita hidupnya.

Sesekali aroma politik berhembus, sebagaimana para tahanan terkadang menerima kabar terbaru tentang situasi, mengenai “Apakah pemerintahan Marcos bakal segera runtuh?”. Pun sempat pula kita diajak mengunjungi flashback singkat berisi perjalanan Day sebelum dipenjara, termasuk proses penangkapannya pasca baku tembak di hutan, yang sayangnya dikemas agak canggung oleh sutrdara Kip Oebanda, yang turut menulis naskahnya bersama Zig Dulay.

Tapi utamanya, Liway tetaplah dongeng personal wacana keluarga juga tumbuh kembang seorang bocah. Dakip mungkin cukup bahagia di penjara, tapi agar bagaimana, penjara tetap penjara. Sebuah daerah di mana kebebasan dikekang. Tatkala kebebasan itu sudah dikekang sejak lahir, individu berisiko terbiasa dengan kekangan tersebut, menganggapnya normal, bahkan merasa betah dijejali penderitaan. Di pertengahan, Liway sempat menitipkan Dakip kepada rekannya, dengan cita-cita sang putera bisa hidup nyaman di luar. Nyatanya, si bocah tidak kerasan. Daripada tidur di kasur empuk, ia menentukan berbaring beralaskan selimut tipis di lantai kamar mandi.

Progresi alurnya dibungkus tempo medium minim letupan namun tetap dinamis, yang mengalir mulus berkat penulisan rapi sehingga nyaman dinikmati. Akting Glaiza de Castro pun jadi pondasi kokoh sebagai seorang pemimpin pemberontakan yang selalu terjebak persoalan, antara menuruti idealisme usaha atau mengalah demi orang-orang tersayang. Tapi di tengah semua itu, api di matanya menolak padam.

Dari potret keseharian, Liway bergerak semakin intens memasuki paruh kedua, sewaktu terjadi perubahan struktur di penjara. Sang sipir baik hati (Soliman Cruz), yang menciptakan dinamika hangat berupa korelasi saling menghormati antara penjaga dan tahanan, digantikan oleh sosok yang lebih kejam (Richard Joson). Mendadak maut serasa mendekat, dan ketegangan menguat. Puncaknya yaitu titik puncak mencekam yang mengombang-ambingkan penonton di antara impian dan ketidakberdayaan, seperti yang selalu mengisi hari-hari para tahanan.

Karena perbedaan kedekatan representasi, respon asing-gilaan penonton Filipina tentu tak terulang di Indonesia, tapi ada hal lain. Begitu teks sebelum kredit mengungkap jati diri sang sutradara—yang sebetulnya bisa ditebak bila menaruh perhatian semenjak awal atau mencari isu terkait filmnya lebih dulu—banyak penonton tercekat, berteriak kecil, bahkan sayup-sayup terdengar tangisan, setelah menyadari betapa Liway merupakan film yang amat personal.

Related Posts

Post a Comment

Subscribe Our Newsletter