Di festival berskala internasional bergengsi sekalipun, film buruk tetap bisa ditemukan. Itu wajar. Tapi biasanya alasannya lolos seleksi bisa dipahami. Entah didorong kecocokan tema, kesegaran gaya (biasanya berupa eksperimentasi estetika), atau sebatas karea ada sosok yang dihormati pelaku industri terlibat di dalamnya. Cukup jarang ada masalah di mana muncul pertanyaan, “Bagaimana bisa film ini diterima?”. Empu, yang punya judul internasional Sugar on the Weaver’s Chair merupakan salah satu perkara langka tersebut.
Film yang judulnya berarti “sosok terhormat”—yang menjelaskan mengapa ada kata itu di dalam “wanita”—ini mengangkat tema empowerment soal dongeng tiga perempuan, Sutringah (Annisa Hertami) si istri penyadap gula asal Banyumas, Yati (Arianggi Tiara) yang meski punya disabilitas tetap semangat mengelola bisnis lurik keluarga di Klaten, dan Maria (Putry Moruk) seorang janda yang memimpin usaha mandiri para janda lain di Kefa. Naskahnya ditulis oleh sutradara Harvan Agustriansyah (Hi5teria, Lima) bersama Luvie Melati (Tuyul Part 1, Hantu Jeruk Purut Reborn), alias memadukan kepala laki-laki dengan perempuan.
Berdasarkan penuturan Harvan dalam sesi tanya-jawab, kombinasi ini dipilih guna menyajikan perspektif berimbang. Keputusan bijak, namun kentara ada dua perspektif berbeda yang saling bertubrukan. Di samping kalimat-kalimat bernada gugatan atas ketidakadilan gender, sempat terdengar pula empowerment semu, misal pada paruh konklusi, saat salah satu karakter berkata bahwa dia memilih “menerima takdir”.
Awalnya semua berjalan lancar, baik dari pergerakan narasi maupun presentasi pesan. Sudah terjebak banyak hutang, kondisi Sutringah diperparah kurun suaminya terjatuh dikala menyadap gula, lumpuh, dan tak mampu mencari nafkah. Dia ingin bekerja, tapi sang suami melarang sambil berseru, “Aku udah jadi babu orang, aku nggak mau kau juga jadi babu orang lain!”. Sekilas terdengar penuh perhatian, sebelum dia lanjut berkata, “Kamu tetep aduk gula aja!”. Sang suami melarang Sutringah menjadi babu orang luar, hanya biar wanita itu bisa menjadi babunya sendiri. Tipikal teladan pikir patriarki yang berhasil filmnya gambarkan dengan relevansi tinggi.
Yati mendapati kalau wisatawan ajaib kurang tertarik pada lurik produksinya alasannya pilihan warna yang kurang cerah. Begitu beliau menyatakan inspirasi untuk membuat lurik berwarna cerah, sang ayah seketika membantah, beralasan bahwa warna itu sudah turun-temurun dan tak semestinya diubah. “Sudah cukup. Kurang apa lagi? Kamu harusnya bersyukur”, demikian sebut sang ayah ketika Yati menyampaikan ambisinya menambah pemasukan pabrik. Sikap “nerimo” ini yang ingin Yati gugat.
Sedangkan Maria yang memimpin komunitas janda pebisnis tenun terancam kehilangan bangunan daerah mereka menenun akibat duduk perkara dengan korporasi. Tercetus inspirasi untuk menyalurkan ilmu menenun lewat media aktivitas belajar mengajar di sekolah, namun keinginan itu terbetur kurikulum. Kali ini giliran ketidakpadulian terhadap budaya lokal yang filmnya sentil.
Ketiga dongeng di atas menarik, relevan, pun variatif walau mempunyai satu benang merah ialah pemberdayaan wanita. Sayangna kelemahan beberapa departemen cukup mengganggu. Entah buruknya hasil konversi DCP atau dilema pasca-produksi lain, gerak gambarnya kerap putus-putus. Sementara naskahnya, terkesan dangkal cenderung menggurui saat semua pesan disampaikan secara lisan. Tidak ada kesubtilan. Seolah apa saja yang ada di benak karakternya, selalu mereka luapkan lewat kata-kata.
Cara bertutur itu sedikit terselamatkan berkat penampilan Annisa Hertami, salah satu aktris paling berbakat tapi underrated negeri ini. Berlawanan dengan filmnya, akting Annisa tak terjebak kegamblangan. Baik dalam diam atau tuturan katanya, ada beberapa layer yang mengakibatkan sosok Sutringah terasa lebih kompleks ketimbang dua wanita lain.
Menjelang babak ketiga, Empu mungkin bukan film memikat, namun mampu dinikmati. Sampai datang waktunya konklusi dihadirkan, dan alasan mengapa film ini cuma berdurasi 60 menit pribadi terlihat. Cerita mendadak usai. Tanpa goresan simpulan selaku titik puncak, semua duduk perkara rumit tadi ditutup secara instan dengan cara mengubah sikap para tokoh begitu saja. Rasanya seperti menyaksikan iklan layanan masyarakat atau video motivasi mengaru biru yang kerap muncul di media umum atau YouTube. Sebuah ending yang menghancurkan segalanya, menciptakan rangkaian proses selama satu jam tadi menjadi tidak penting.



Post a Comment
Post a Comment