Ads 720 x 90

Fiksioner Free Blogger Theme Download

Charlie's Angels (2019)

Woman can do anything”, ucap Sabina Wilson (Kristen Stewart) membuka filmnya, seolah langsung menegaskan niat Elizabeth Banks, selaku sutradara sekaligus penulis naskah, membawa Charlie’s Angels dari eye candy pemuas fantasi lelaki di dua installment pertama (ini sekuel, bukan remake maupun reboot) menjadi menu empowerment. Tapi dalam prosesnya justru menciptakan film ini tampil jauh lebih ndeso dari dua karya McG tersebut, yang notabene mengambil pendekatan campy cenderung mengarah ke parodi.

Kini Townsend Agency milik Charlie, si pria misterius yang hanya bisa didengar suaranya lewat interkom, telah melebarkan sayap merambah dunia internasional berkat inisiatif John Bosley (Patrick Stewart menggantikan Bill Murray). Beberapa cabang dibuka di berbagai potongan dunia yang dikelola oleh banyak Bosley. Ya, di sini “Bosley” bukan sebatas nama individu, pula sebuah jabatan.

Misi para Angel kali ini datang dikala ilmuwan berjulukan Elena Houghlin (Naomi Scott), khawatir bila teknologi buatannya yang berfungsi menyediakan sumber energi, berpotensi disalahgunakan sebagai senjata berbahaya. Di bawah komando Susan (Elizabeth Banks) si mantan Angel yang sekarang merupakan salah satu Bosley, Sabina dan Jane Kano (Ella Balinska) harus terjun dalam petualangan yang diisi terlalu banyak pengkhianatan konyol serta rentetan aksi medioker.

Seperti telah saya sebutkan, dua film Charlie’s Angels pertama memang disengaja tampil campy, sehingga kekonyolan-kekonyolannya dapat dimaklumi, bahkan dinikmati. Tapi versi terbaru ini, biarpun tetap dibumbui banyak humor (yang tidak seberapa lucu), terang ingin lebih serius. Karena itulah cara Elizabeth Banks membangun kisahnya seperti salah daerah. Pada film bertema spionase, kejutan beraroma pengkhianatan yaitu elemen biasa. Banks menerapkan itu, namun dosisnya keterlaluan, Charlie’s Angels pun ibarat film kelas B yang menolak (atau tidak sadar?) dianggap demikian.

Ketika satu jenis twist diterapkan berulang kali, daya kejutnya berkurang. Charlie’s Angels membuat aku sampai di titik enggan memperhatikan alurnya lagi, juga malas memikirkan bagaimana hal “A” mampu menjadi “B”, atau kenapa seorang huruf yang tadinya bersikap “C” berubah jadi “D”. Naskah Banks mirip dibuat memakai prinsip warganet, yaitu “pokoknya nge-twist!”. Tidak peduli kejutan itu tidak masuk logika, mencurangi penonton, datang entah dari mana, atau bahkan merusak penokohan sebagaimana pernah dilakukan salah satu franchise spionase besar lain (can’t tell you which movie).

Dahulu, McG memakai teknik wire-fu sebagai cool factor bagi adegan agresi dua film Charlie’s Angels. Alih-alih muncul dengan metode keren lain yang lebih modern, Banks menetapkan tampil tanpa gaya, membungkus aksi secara apa adanya memakai quick cuts dan pergerakan kamera chaotic yang sukar dinikmati. Koreografi medioker bertempo terlampau lambat turut memperburuk keadaan. Mana mungkin misi empowering yang filmnya usung tersampaikan jika sepak terjang para jagoannya gagal mencuri perhatian.

Satu-satunya penyelamat adalah penampilan trio Angels, walau sayangnya mereka tidak memperoleh materi yang layak. Ella Balinska paling meyakinkan sebagai Angel, bersenjatakan kemampuan bela diri terbaik dan gestur serta verbal natural dalam melakoni tubruk maupun baku tembak. Keliaran Stewart, kecanggungan menggelitik Scott, sama-sama menghibur. Tapi sulit menampik kesan bahwa mereka yaitu dua kendaraan beroda empat sport yang dikendarai bak city car. Semestinya Banks bisa memacu keduanya lebih kencang lagi, memberi bahan yang lebih aneh lagi.

Bicara soal empowerment, blunder terbesar Charlie’s Angels hadir jelang final periode mengubah mitologi panjang serinya atas nama kesetaraan. Bukan persoalan andai filmnya berstatus reboot atau remake. Tapi sebagai suatu kelanjutan cerita, continuity error-nya memancing pertanyaan, “Apakah Elizabeth Banks belum menonton serial atau film-film sebelumnya? Atau dia memang tidak peduli?”.

Related Posts

Post a Comment

Subscribe Our Newsletter