Ads 720 x 90

Fiksioner Free Blogger Theme Download

99 Nama Cinta (2019)

99 Nama Cinta membuktikan kalau film bernapas religi cenderung tampil lebih baik jika digarap oleh figur yang tidak “mabuk agama”. Mungkin anda tidak menyangka, tapi Garin Nugroho merupakan penulis naskah dalam karya teranyar sutradara Danial Rifki (Haji Backpacker, Meet Me After Sunset) ini. Walau jauh dari tepat, damai rasanya mendapati di sini tidak ada kesan memaksa, menghakimi, menyudutkan, apalagi mengafirkan. Bahkan di akhir kisah, protagonisnya tak perlu terdorong mengenakan jilbab selaku bentuk “menemukan iktikad”.

Protagonis yang dimaksud bernama Talia (Acha Septriassa), pembaca program gosip televisi dengan rating tinggi berjudul Bibir Talia. Prinsip “semua cuma bisnis, jangan bawa perasaan” diusung Talia. Baginya, kesuksesan acara merupakan hal utama, sedangkan sisi kemanusiaan dan moralitas jadi nomor kesekian. Talia tidak ragu menjebak narasumber, mengadakan wawancara tanpa persetujuan demi rating. Talia tidak melangkah di jalan Allah, itu pasti.

Sampai datang ustaz muda misterius, mengaku diperintah oleh ibunda Talia (Ira Wibowo) biar mengajarinya mengaji. Kiblat (Deva Mahenra) nama sang ustaz. Rupanya dia putera Kiai Umar (Donny Damara), mitra lama orang tua Talia, yang dahulu menerima bantuan kala mendirikan pondok pesantren. Kedatangan Kiblat didasari atas akad Kiai Umar membalas akal dalam bentuk pembagian ilmu.

Sekilas 99 Nama Cinta tak ada bedanya dengan film religi kebanyakan. Dua sejoli berlawanan perilaku saling jatuh cinta, kemudian akibatnya si alim mampu menggiring si biang maksiat menemukan hidayah. Naskah buatan Garin tetap bermuara ke sana, namun proses beserta segala pernak-perniknya jadi pembeda. Melihat penggambaran Kiblat sebagai ulama muda berparas rupawan berpenampilan modis, Garin ingin menjauhkan dakwah Islam dari kekakuan.

Berpijak pada niatan tersebut, dihadirkanlah karakter Husna (Chicki Fawzi), ustazah muda lulusan universitas Korea Selatan yang mengajar di pondok pesantren Kiblat lewat media musik. Membawa ukulele, Husna bernyanyi di kelas sembari menuturkan bahwa dulu Wali Sanga membuatkan Islam melalui musik. Bagi yang familiar dengan karya Garin, tentu tahu hal ini selaras dengan kegemarannya menyelipkan elemen kesenian sebagai penguat narasi.

Hubungan Talia dan Kiblat tidak langsung berjalan mulus mengingat keduanya amat berlawanan. Si perempuan membawakan acara isu, sedangkan si pria mengajarkan buruknya kegiatan bergosip kepada para murid. Di film lain, saya yakin Kiblat bakal mengonfrontasi Talia, terperinci-terangan menghakimi profesinya.Tapi tidak di sini. Kiblat ialah sosok toleran. Menyuarakan itu di kelas merupakan bentuk pelaksanaan kewajiban selaku guru agama, namun di depan Talia, beliau enggan melarang, meski tak membenarkan juga. Dan baik Kiblat maupun Kiai Umar tak sekalipun menyuruh Talia beribadah.

Semua perubahan murni terjadi atas kesadaran Talia sendiri, yang bermula dikala dia dipindahtugaskan mengurus kuliah subuh yang punya rating buruk dan dipandang sebagai program buangan akibat sebuah masalah. Talia dipusingkan kala mendapati betapa membosankan acara tersebut. Para penonton di studio tertidur, dan dikala dievaluasi, sang ustaz pengisi acara (Dedi “Miing” Gumelar) justru berkata “Acara keagamaan memang berat”. Bagaimana mampu muncul ketertarikan memperdalam agama jika ulama berpikiran demikian? Kita pun mampu menebak apa taktik yang dipilih Talia.

Terkait unsur religi, 99 Nama Cinta tampil memuaskan, bahkan termasuk salah satu yang terbaik dalam beberapa tahun terakhir. Masalah justru timbul di luar itu. Beberapa detail membuat aku mengernyitkan dahi. Kenapa Talia, si pembawa program ternama, harus repot-repot naik bus ekonomi abad mengunjungi pondok pesantren? Apa susahnya menyewa sopir? Bukankah dia juga datang diantar sopir? Demi rating sekalipun, bukankah mustahil sebuah stasiun televisi bersedia “mengumpankan” anggota timnya sendiri sebagai materi informasi?  Demi kesan dramatis, logika dikesampingkan.

Terkait dramatisasi, terdapat momen yang mengganggu, menggelikan alih-alih menggugah balasan pengadeganan berlebihan dari Danial Rifki, walau untuk hal ini, naskahnya ikut bertanggung jawab alasannya terburu-buru ingin menjabarkan bahwa Talia adalah individu berperasaan. Sementara romansanya justru dingin, sewaktu kecanggungan serta perbedaan Talia dan Kiblat mengurangi quality time keduanya. Sulit memedulikan keberlangsungan percintaan mereka. Setidaknya, mirip biasa, Acha Septriassa masih aktris dengan penampilan dinamis yang bisa diandalkan guna menghembuskan nyawa di tiap adegan, entah di ranah serius (drama) atau komedik.

Related Posts

Post a Comment

Subscribe Our Newsletter