Kerapian. Saya sering menyinggung aspek tersebut, menjadikannya salah satu landasan menilai keberhasilan film. Tapi sebagai cabang seni, film bukan ilmu niscaya. Ada kalanya, kekacauan (selama disengaja) justru memperkuat suatu film. Temen Kondangan selaku debut penyutradaraan Iip S. Hanan termasuk golongan tersebut, alasannya intinya, film ini memang mempresentasikan secara jenaka kekacauan yang tercipta kurun seseorang menghadiri pernikahan mantan kekasih.
Selebgram bernama Putri (Prisia Nasution) tengah kebingungan masa menerima permintaan pernikahan sang mantan, Dheni (Samuel Rizal). Sebagai cara mengambarkan keberhasilannya move on, Putri memutuskan tiba. Masalahnya, Putri terlanjur berprinsip bahwa haram hukumnya mendatangi akad nikah mantan tanpa membawa gandengan. Padahal saat ini beliau sedang melajang. Putri pun mulai mencari sobat kondangan. Beberapa nama masuk daftar incaran: Juna (Kevin Julio) si wedding crasher tersohor yang juga sepupu si ajudan, Sari (Chika Waode); Sang bos, Galih (Gading Marten); dan Yusuf (Reza Nangin) si sobat Sekolah Menengan Atas yang membisu-diam sudah usang menyukai Putri.
Berharap satu dari ketiga laki-laki itu bisa menemaninya, alangkah terkejutnya Putri sewaktu mereka semua sama-sama tiba. Menghadiri pesta pernikahan mantan saja sudah berpotensi mengakibatkan kekacauan, jadi bisa dibayangkan betapa runyam situasi film ini. Apalagi naskah buatan Fauzan Adisuko (Bidadari Terakhir) dan Rino Sarjono (Negeri 5 Menara, Kuambil Lagi Hatiku) turut memberi ketiga laki-laki itu problem personal masing-masing. Yusuf terlibat konflik dengan bandnya, Juna harus kejar-kejaran dengan Angel (Imelda Therinne) dari pihak wedding organizer, sementara Galih menyimpan sebuah diam-diam.
Walau sekitar 80% filmnya cuma mengambil latar gedung resepsi, itu tidak menghalangi terjadinya rentetan masalah abstrak yang muncul silih berganti. Penuhnya konflik memaksa Iip S. Hanan memacu tempo filmnya. Penonton tak diajak berhenti sejenak guna meresapi kisahnya, tapi justru di sini letak pesona Temen Kondangan, walau sayangnya sistem kebut ini sepertinya juga diterapkan di proses produksi dan pasca-produksi, mengacu pada beberapa bloopers yang terlihat terperinci, seperti jumlah pengikut Instagram seorang huruf berbeda dari yang disebutkan, hingga tombol “rekam” yang belum dipencet pada adegan merekam video melalui handphone.
Cepat, tanpa basa-kedaluwarsa, kacau, tetapi menyenangkan. Apalagi naskahnya dipersenjatai wangsit-ide komedi segar yang enggan menahan diri untuk sesekali menghembuskan absurditas. Saya tak heran jika di satu titik, anda mengira film ini merupakan adaptasi webtoon. Ditambah lagi, jajaran karakternya pun berwarna, sekaligus diperankan nama-nama yang mumpuni menangani komedi. Prisia menampilkan salah satu performa paling menghibur sepanjang karirnya sebagai selebgram yang mengobrankan keotentikan demi menyuapi ratusan ribu pengikutnya di Instagram. Putri terjebak dalam berbagai situasi memusingkan, di mana semakin aneh situasi itu, semakin total pula usaha Prisia mengocok perut penonton.
Kevin Julio punya kharisma sesosok playboy; Reza Nangin kembali menunjukan jika ia sepantasnya menerima atensi lebih tinggi perihal sepak terjangnya di industri film; dan Gading Marten? Tidak usah dipertanyakan. Menjadi bos asing yang kecanduan lagu Ular Berbisa milik Hello, hampir semua polah maupun tutur katanya bisa memancing tawa. Sedangkan dalam porsi kemunculan lebih kecil, Imelda Therinne sempat memperlihatkan satu hal yang tak aku duga bakal dipunyai komedi semacam Temen Kondangan, yaitu akting dramatik. Kevin, Reza, dan Imelda merupakan tiga dari sekian banyak pelakon di industri film Indonesia yang kualitasnya perlu lebih banyak diapresiasi.
Tapi seiring waktu, usaha mempresentasikan kekacauan perlahan jadi bumerang. Filmnya bagai kehilangan kontrol diri, dan mulai melahirkan kekacauan yang tak diniatkan terjadi, khususnya mencapai babak ketiga. Keinginan menggila malah berujung menghilangkan fokus. Ketika seharusnya proses Putri untuk move on sekaligus menyadari bahwa selama ini ia terlalu menuruti pendapat orang (baca: netizen) sehingga terjebak dalam kepalsuan dan keterpaksaan dirangkum, Temen Kondangan malah mengalihkan fokus dengan memberi konklusi kepada abjad lain.
Dampak emosi yang memang sudah melemah dikala studi huruf dan eksplorasi konflik dikorbankan demi komedi pun akhirya makin tak tersisa. Tapi sesuai dengan goresan pena di poster yang berbunyi “Rusuh di bioskop....”, Temen Kondangan memang hanya bertujuan memancing rusuh. Kerusuhan yang akan sangat memuaskan, selama hiburan jadi satu-satunya yang anda cari.



Post a Comment
Post a Comment