Tahukah kalian bahwa Rasuk (2018) yang merupakan penyesuaian novel berjudul sama buatan Risa Saraswati berhasil mengumpulkan lebih dari 900 ribu penonton, membawanya bercokol di urutan 16 daftar film Indonesia terlaris di tahun perilisannya? Tidak butuh waktu lama sampai Baginda Dheeraj Kalwani memproduksi sekuelnya, yang kali ini ditangani sutradara Rizal Mantovani menggantikan Ubay Fox, sementara posisi Shandy Aulia sebagai pemeran utama diberikan kepada Nikita Willy. Apakah balasannya lebih baik? Jawabannya “ya”. Masalahnya, mengingat hancur leburnya kualitas pendahulunya, nyaris mustahil menghasilkan tontonan yang lebih jelek.
Nikita Willy memerankan Isabella, adik Inggrid (diperankan Denira Wiraguna di film pertama, di sini digantikan oleh Raquel Katie Larkin), teman Langgir (Shandy Aulia). Itu saja kaitan Rasuk 2 dengan film pertamanya. Bersama dua sahabat kosnya, Alma (Sonia Alyssa) dan Nesya (Lania Fira), Bella tengah melakukan koas di bagian forensik rumah sakit. Dituntut sering mengikuti proses autopsi, Bella malah kerap melihat hal-hal aneh, termasuk jenazah yang mendadak hidup kembali. Menolak percaya kepada hal mistis, Bella menentukan berobat ke psikiater, dan di sinilah kengawuran naskah buatan Haqi Achmad dan Baskoro Adi mulai tercium.
Rasuk 2 membahas beberapa elemen psikologi, yang alih-alih menjadikannya cerdas, justru menciptakan naskahnya seolah tersusun atas hasil riset kilat lewat Wikipedia, yang bahkan tampaknya cuma dibaca sekilas. Nama hebat matematika John Nash, yang kisahnya diangkat dalam A Beautiful Mind (2001) disebut oleh sang psikiater. Menurutnya, halusinasi Nash disebabkan karena kecerdasan yang luar biasa, dan bahwa kesembuhan Bella bergantung pada dirinya sendiri. Bukan itu penyebab gangguan mental Nash, pun proses penyembuhan skizofrenia memerlukan pinjaman lingkungan sosial. Efek Barnum tak ketinggalan disinggung dengan pengertian salah kaprah, karena poin utama imbas itu bukanlah soal fenomena paranormal.
Pada sebuah autopsi, Bella dipertemukan dengan mayat perempuan tak dikenal yang disebut “Mrs. X”. Maaf, tapi tahu dari mana perempuan itu sudah menikah? Atau penulisnya tidak paham perbedaan Mrs. dan Ms.? Penulis terjemahannya lebih cerdik untuk urusan ini, dan menuliskan “Miss X”. Pada 18 Maret 1967, ditemukan jenazah perempuan tanpa identitas di Amerika Serikat yang lalu dipanggil “Miss X”. Mungkin naskahnya mengambil referensi dari situ, tetapi akhir riset seadanya, lagi-lagi muncul kekeliruan.
Sejak autopsi itu, teror yang Bella alami makin intens, bahkan sempat membuatnya kesurupan, lalu menyerang Radja (Achmad Megantara), satu lagi teman kosnya yang menaruh hati kepada Bella. Nantinya terjalin percintaan di antara keduanya, mengajak kita mengikuti sejenak acara kencan mereka, yang terkesan sebatas penambal durasi semata, pun sama sekali tak romantis, salah satunya akibat Achmad Megantara yang kembali menampilkan performa kaku nan menggelikan. Apa pula perlunya menyelipkan kecemburuan Nesya dikala aspek itu sekadar numpang lewat dan nihil efek terhadap konflik utama?
Makara dengan setumpuk kelemahan di atas, kenapa saya menganggap Rasuk 2 lebih superior ketimbang pendahulunya? Jawabannya ada di paruh awal film. Salah satu hal paling mengganggu di Rasuk yakni tata suaranya yang mengancam gendang telinga. Di sini volumenya diturunkan, walau agak terlalu rendah sehingga membuat jump scare kurang bertenaga. Rizal Mantovani pun tidak mengecewakan jeli memilah, mana penampakan yang mesti diiring musik, mana yang tidak. Ditambah riasan yang tidak buruk, beberapa keheningan bahkan mampu memancing kengerian (titik terbaiknya saat Bella melihat sesosok hantu sepulang dari rumah sakit) melalui pengarahan Rizal.
Sayangnya keunggulan Rizal (dan film ini secara keseluruhan) berhenti di situ. Sang sutradara kewalahan menciptakan ketegangan dalam adegan di mana kekacauan terjadi. Hasilnya canggung, secanggung lelucon-lelucon dari ekspresi Asri Welas. Bukan perkara gampang membuat Asri Welas, yang biasanya berhasil menyegarkan suasana, jadi tidak lucu. Dan berkat ketidakmampuan Rizal mengolah momen komedik, khususnya terkait memilih timing transisi, pencapaian langka itu sukses diraih film ini.
Sekitar 15 menit pertama, Rasuk 2 membuka tabir misteri dengan menarik, menyulut penasaran kala mempertanyakan asal muasal mayat Mrs. X, serta mengapa sang hantu meneror Bella. Sampai risikonya investigasi asal jalan dilakukan, rasa bosan menyeruak, lalu penyelidikan Bella jadi tidak penting sewaktu muncul abjad gres yang menjawab segala pertanyaan. Rasuk 2 tidak lupa menutup kisahnya melalui titik puncak sarat kebodohan berintensitas lemah, menyebabkan peningkatan kualitasnya semakin terasa semu. Paling tidak Nikita Willy menyajikan performa yang lebih “normal” dibandingkan Shandy Aulia.



Post a Comment
Post a Comment