Ads 720 x 90

Fiksioner Free Blogger Theme Download

The Platform (2019)

Tempat bertingkat sebagai gambaran sistem kasta, human nature, halusinasi protagonis tentang sosok yang telah tiada akhir rasa bersalah. The Platform punya semua elemen familiar tersebut. Tapi yang menjadikannya lebih dari sebatas repetisi adalah keseimbangan perspektif, yang bukan sebatas mengkritik golongan atas alasannya adalah “memakan” golongan bawah, pula mengobservasi bagaimana golongan bawah juga saling “makan”. Hanya saja, pada film ini, kegiatan “saling makan” juga terjadi secara literal.

Kisahnya mengenai penjara berbentuk menara, dengan jumlah tingkat tidak diketahui, setidaknya sebelum memasuki third act. Seluruh tingkat dipenuhi amarah dan frustrasi, namun ketika golongan atas tersulut emosinya alasannya adalah tampilan panna cotta yang kurang tepat, golongan bawah tertekan, alasannya adalah ada kemungkinan mereka sama sekali tidak bisa makan. Mendapat makanan sisa 100 orang sudah merupakan keberuntungan.

Protagonis kita, Goreng (Iván Massagué), terbangun di tingkat 48. Rekan satu selnya yakni pria bau tanah bernama Trimagasi (Zorion Eguileor). Jangan kaget mendengar nama-nama karakternya yang terdengar mirip kata dalam Bahasa Indonesia. Selain keduanya, masih ada Imoguiri (dari “Imogiri”) sampai Brambang (Bahasa Jawa untuk “bawang merah”). Melalui pembagian terstruktur mengenai Trimagasi, Goreng (juga penonton) mencar ilmu perihal aneka macam aturan di penjara itu.

Soal mimbar berisi masakan yang disajikan tingkat per tingkat sehingga semakin rendah tingkat seseorang semakin kecil peluangnya memperoleh jatah, hingga ihwal tingkat yang berubah tiap bulan. Dari tingkat atas yang penuh laba, bisa saja seorang tahanan dipindah ke tingkat bawah di bulan berikutnya. Pun nyaris tidak mungkin kabur dari sana, walau jelang simpulan, terungkap bahwa sebetulnya ada cara, yang alhasil memancing pertanyaan, “Mengapa tidak ada yang terpikir melakukan itu sebelumnya?”.

Naskah buatan David Desola dan Pedro Rivero bisa mendetailkan aturan-hukum serta sistem di penjara, yang berfungsi sebagai pengikat atensi, alasannya bersama Goreng, kita selalu mempelajari hal gres yang tak jarang melahirkan kejutan. Ditambah permainan pacing yang mumpuni dari sutradara Galder Gaztelu-Urrutia, dinamika The Platform sama sekali tidak terganggu oleh keterbatasan latarnya.

Di luar ambiguitas konklusi yang sedikit menyimpan alegori keagamaan, tidak ada banyak ruang bagi kesubtilan di film ini. The Platform bukan Parasite, yang paparan gosip sosialnya mampu menenggelamkan penonton dalam diskusi berkepanjangan. The Platform yakni tamparan, bahkan pukulan brutal yang bukan untuk memancing perenungan, melainkan kesadaran hasil dari keterkejutan.

Grotesque. Kesan itu yang pribadi terasa, tatkala darah dan isi perut manusia ditumpahkan, lewat pemandangan yang bakal memuaskan para penggemar film genre. Terbukti, filmnya berhasil memenangkan kategori Midnight Madness pada Toronto International Film Festival tahun lalu. Sinematografi isyarat Jon D. Domínguez menekankan kegilaan, termasuk melalui penggunaan lampu-lampu merah, yang bahkan membuat sebuah adegan seks imajiner menghadirkan ketidaknyamanan.

Terkai presentasi info kelas sosial maupun human nature, sudut pandang film ini adil, tanpa perhiasan untuk memuaskan para penggagas pembela proletar (sederhananya, ini bukan “film SJW”), dan itulah mengapa perspektifnya tampil segar. Benar bahwa golongan atas menolak menghormati mereka yang di bawah, menganggap dirinya terlalu tinggi untuk sekadar menyapa. Alhasil para petinggi tak tahu betapa kacau kondisi di bawah. Tapi di waktu bersamaan, golongan bawah terlanjur bersikap apatis, menyimpan sentimen negatif yang penuh generalisasi terhadap golongan atas.

Kedua pihak sama-sama cuma memedulikan cara mengenyangkan diri sendiri dan dikuasi ketidakpedulian. Golongan atas menolak membuatkan masakan, sedangkan yang di bawah menolak mengakui kesalahan dan melimpahkannya pada mereka yang di atas. “Semua salah orang kaya! Kalau mereka peduli, kami pasti tidak akan berbuat buruk!”, begitu katanya. Sebuah lingkaran setan. Akhirnya, sewaktu pertukaran tugas dilakukan, sama sekali tiada perubahan, alasannya yang tersisa hanya hasrat balas dendam dan prasangka.

Di tengah pandemi seperti kini, ada sebuah momen yang menarik perhatian aku alasannya relevansinya yang tinggi. Imoguiri (Antonia San Juan), mantan pengelola yang secara sukarela mendekam dalam penjara, berusaha mengajak tahanan lain semoga menjatah masakan mereka, agar tahanan di tingkat bahwa menerima bagian. Mereka menolak. Mereka tak peduli akan soladaritas semacam itu. Tapi begitu Goreng mengancam bakal mengencingi makanan, mereka berdasarkan. Sama seperti masyarakat kita yang tak memahami istilah “tinggi” mirip social distancing dan semacamnya. Mereka perlu dipersuasi memakai metode sederhana dengan kata-kata to the point yang menekankan pada hukuman, atau dampak buruk mengerikan yang bakal menimpa bila tidak patuh.


Available on NETFLIX

Related Posts

Post a Comment

Subscribe Our Newsletter