Lebih dari kelucuannya, Mekah I’m Coming, yang sebelumnya mengusung judul Haji Hoax, punya value besar sebab keberaniannya menertawakan informasi bertema religi. Ketika bangsa ini semakin kehilangan selera humor akhir mabuk agama, Jeihan Angga selaku sutradara sekaligus penulis naskah, seolah membawa aku kembali ke abad tatkala banyolan “Bahasa Arab” milik Bajaj Bajuri dulu belum dianggap ofensif. Bukan agama yang ditertawakan, melainkan kengawuran penganutnya.
Ibu saya pernah bercerita perihal keputusannya keluar dari grup WhatsApp haji, alasannya adalah orang-orang di dalamnya memanggil satu sama lain dengan sebutan “Bu Hajjah”. “Ya itu kan grup haji. Otomatis semua haji dan hajjah. Ngapain manggil bu hajjah/pak haji? Kayak minta ditinggikan banget!”, ungkapnya kesal. Realitanya memang demikian. Haji ialah gelar maha dahsyat yang sering membuat pemiliknya dipandang atau merasa lebih tinggi, lebih mulia, lebih memahami agama.
Karenanya, saat terancam kehilangan kekasihnya, Eni (Michelle Ziudith), yang oleh sang ayah, Haji Soleh (Totos Rasiti), bakal dijodohkan dengan Pietoyo (Dwi Sasono) si saudagar kaya dari kota, Eddy (Rizky Nazar) mantap berkata, “Saya akan naik haji tahun ini!”. Eddy sampai harus menjual bengkel kecilnya sebagai biaya. Tapi, akhir keterbatasan kuota, ia harus mengantre 10 tahun. Terpojok, Eddy nekat menerima ajuan sebuah distributor perjalanan yang berjanji bisa memberangkatkannya haji tahun ini dengan biaya 240 juta rupiah.
Seperti sudah kita tahu dari trailer-nya, distributor tersebut rupanya membohongi Eddy. Bersama “calon jemaah” lain berjulukan Fajrul (Ephy Sekurity), Eddy terjebak di Jakarta sebab keduanya merasa malu untuk pulang ke rumah dalam kondisi gagal naik haji. Jeihan Angga lalu membawa penonton mendatangi sebuah daerah yang ditinggali oleh banyak korban penipuan distributor perjalanan, yang menentukan tidak mudik sebelum benar-benar berangkat haji. Kita diajak mengintip sebuah sudut realita kelam Indonesia, dibawa mengetahui dampak besar dari komersialisasi agama serta pengultusan gelar haji.
Keduanya memang saling berkaitan. Tanpa pengultusan, imbas psikis yang dihasilkan takkan sebesar itu. Jeihan mampu memunculkan pemahaman terhadap isu tersebut melalui gaya penuh canda, tanpa memaksakan diri berpindah ke jalur drama sebagaimana kebanyakan komedi lokal yang menyelipkan subteks di alurnya. Momen yang paling dekat menyentuh ranah dramatis ialah peristiwa romantis tak terduga di penghujung kisah. Peristiwa yang sejatinya tidak logis, namun mampu diterima, mengingat semenjak awal Mekah I’m Coming terperinci sudah menjauhkan diri dari akal.
Humornya memang masih cenderung hit-and-miss balasan tidak seluruh elemen penyutradaraan (timing, pengemasan hook sebuah lawakan) berjalan mulus. Tapi, keberanian Jeihan Angga menerapkan ilham-inspirasi kreatif dalam debutnya ini patut diberi pujian tinggi. Ditemani musik bernuansa Timur Tengah garapan Krisna Purna (Ayat-Ayat Cinta 2, Petualangan Menangkap Petir, Abracadabra), Jeihan memamerkan absurditas komedi, yang acap kali hadir dalam bentuk tak terduga, berkat kombinasi referensi segudang dengan keliaran ide sarat kreativitas, yang biasanya hanya akan berhenti sebagai kelakar konyol pada dialog warung kopi. Ketika banyak sineas khawatir karyanya tampak norak jikalau secara total menerapkan komedi receh dan/atau tertawa di atas berita berbau agama, Jeihan melaksanakan keduanya.
Tertular kegilaan sang sutradara yaitu jajaran pemainnya. Rizky Nazar, Ephy Sekuriti, hingga Totos Rasiti, semuanya menghibur. Tapi kejutan terbesar ditampilkan Michelle Ziudith. Meninggalkan zona nyamannya, Michelle tidak ragu mempermalukan diri demi efektivitas komedi dalam performa terbaik yang bisa saja membuka jalan baru bagi karirnya. Mekah I’m Coming pun menandai penampilan terakhir mendiang Ria Irawan, dan sungguh persembahan yang pantas untuk aktris legendaris tampaknya. Selamat jalan Mbak Ria.



Post a Comment
Post a Comment