Kata “tootsie” digunakan di Thailand untuk menyebut pria gay yang campy, dengan gaya maupun perilaku heboh, berlebihan, dan mungkin dianggap norak oleh banyak orang. Cuties & The Fake (punya judul asli Tootsies & The Fake) mirip perayaan bagi para tootsies, menyebabkan mereka sebagai sosok-sosok lucu tanpa harus mengolok-olok secara ofensif. Mereka campy, tapi ke-campy-an itu cukup menyenangkan pula berwarna, sama berwarnanya dengan dandanan tokoh-tokohnya.
Kisahnya menyoroti persahabatan tiga gay, Gus (Petch Paopetch Charoensook), Golf (Pingpong Thongchai Thongkanthom), dan Kim (Ter Ratthanant Janyajirawong); plus lesbian berjulukan Natty (Peak Pattarasaya Kreursuwansiri). Mengadaptasi serial televisi terkenal berjudul Diary of Tootsies yang berlangsung selama dua trend, filmnya menganggap semua penonton sudah menyaksikan serialnya, ketika meniadakan klarifikasi terhadap beberapa latar belakang konflik serta korelasi antar aksara.
Tanpa membaca info di internet, penonton awam mungkin takkan tahu bahwa Natty seorang lesbian. Padahal fakta tersebut memiliki kegunaan memperumit kondisi dikala sang ibu (Dee Chanana Nutakom), yang lebih mengasihi kucing ketimbang puterinya, menolak membagi warisan jikalau Natty tidak segera punya anak. Begitu pula mantan pacar Golf yang memilih jadi biksu, atau terciptanya masalah cinta segitiga sewaktu Gus, yang sekarang tinggal bersama kekasihnya, bereuni dengan sang mantan, Top (JJ Kritsanapoom Pibulsonggram).
Beberapa memang sebatas sempilan, namun tidak sedikit pula yang berakhir melemahkan kualitas narasi. Apalagi naskahnya memang kurang baik tentang mengembangkan konflik yang memiliki banyak cabang. Mudah, amunisi Cuties & The Fake tinggal menyisakan komedi yang berasal dari rentetan kekacauan abstrak setelah pertemuan Golf dengan selebritis idolanya, Cathy (Araya A. Hargate).
Seabsurd apa? Simak deskripsi berikut: Suatu hari, Golf, yang beprofesi sebagai make-up artist, sedang bekerja. Kim turut serta sesudah dipecat dari pekerjaan sebagai pramugara, akhir insiden di pesawat yang tidak akan saya ungkap demi menjaga elemen kejutan dan kelucuan. Di situlah Golf bertemu Cathy. Gugup, tubuhnya pun bercucuran keringat (“orang gemuk banyak berkeringat” merupakan salah satu running joke film ini). Ketika Golf jatuh dari bangku yang remuk akibat tak berpengaruh menopang bobotnya, Cathy berusaha membantu, tapi justru terpeleset gara-gara tangan Golf licin oleh keringat. Berkat kebiasan berlatih yoga, Cathy bisa kayang untuk menopang tubuhnya. Malang, saat hendak bangkit, kepala Cathy malah terbentur hidung Kim yang mengeras sebab terlalu sering suntik silikon. Cathy pun koma.
Akibat terancam gagal memenuhi kontrak mengisi suatu program, Cathy berpotensi dituntut oleh pihak penyelenggara. Sampai muncul pandangan baru dari otak gila Golf dan Kim, untuk mencari “kembaran” sang bintang. Caranya? Mendatangi satu per satu perempuan yang pernah mengoperasi wajah mereka agar mirip Cathy. Dari beberapa kandidat, terpilih Nam, seorang penjual nasi goreng pinggir jalan.
Masalahnya, kepribadian Nam dan Cathy amat berlawanan. Apabila Cathy dikenal ramah dan anggun bak malaikat, maka Nam cenderung kasar serta melempar sumpah serapah sesering menarik napas. Selain kelucuan, kehadiran Nam turut memberi panggung bagi Araya memamerkan dualitas akting. Gradasinya memang belum sempurna, apalagi sewaktu penampilan Nam sudah dipermak, namun menyaksikan wanita elok satu ini melaksanakan hal-hal memalukan ialah hiburan tersendiri.
Film komedi tidak mengenal istilah “terlalu lucu”, tapi lain kisah dengan “terlalu berusaha lucu”. Cuties & The Fake menerapkan setumpuk gaya. Permainan kata, humor kentut, humor toilet, humor seks, humor meta, slapstick, sampai parodi terhadap Pee Mak (2013) yang dari sananya sudah berbentuk horor-komedi. Beberapa tampil datar, terlebih dikala timing enggan diperhatikan, mengingat ranjau lawakan disebar hampir di tiap sudut. Tapi sewaktu menemui target, tawa yang dilahirkan tidak main-main.
Di luar kekurangannya, Cuties & The Fake tetap tontonan crowd pleasure. Sutradara Kittiphak Thongauam punya energi sekaligus visi mengemas absurditas memadai, didukung totalitas jajaran pemainnya melakoni karakter-karakter bigger-than-life yang menarik…..kecuali Gus. Sang protagonis sekaligus narator selaku pemilik buku harian tempatnya menuliskan seluruh dongeng film ini, justru merupakan figure paling membosankan. Konfliknya gagal dikembangkan, kontribusinya dalam momen-momen komedik emas pun tergolong minim dibanding duet akhir hayat Golf-Kim.



Post a Comment
Post a Comment