Ads 720 x 90

Fiksioner Free Blogger Theme Download

Jaff 2019 - Abracadabra

Pesulap bernama Lukman (Reza Rahadian) memutuskan pensiun. Di pertunjukkan terakhirnya, dia bertaruh, jika triknya gagal, maka beliau takkan melakukan sulap lagi. Sebuah alasan semata, alasannya adalah di situ, Lukman memang berniat gagal. Triknya ialah menghilangkan bocah dalam kotak. Alih-alih kotak khusus, ia memakai kotak kayu biasa peninggalan sang ayah, seorang pesulap tersohor yang hilang pasca pensiun. Tapi, ketika dibuka, kotak itu kosong. Kekosongan yang juga terasa di hati aku selama menonton Abracadabra.

Berikutnya, orang-orang lain ikut hilang sebab kotak tersebut, dan Lukman melaksanakan perjalanan guna mengembalikan mereka, sembari mencari tahu diam-diam di balik kotak kayu bertuliskan “Abracadabra” itu. Perjalanan yang melibatkan kejar-kejaran dengan trio polisi konyol (Butet Kertaradjasa, Ence Bagus, Imam Darto) sampai kemunculan wanita berpenampilan glamor (Salvita Decorte) yang bak berasal dari masa tatkala kabaret Moulin Rouge mencapai puncak kejayaan.

Faozan Rizal (Habibie & Ainun, Say I Love You), selaku sutradara sekaligus penulis naskah, mengakibatkan film ini taman bermain. Sejak menit-menit awal ketika Lukman mengadakan pertunjukan sementara pesulap-pesulap lain—termasuk Paul Agusta dengan dandanan ala drag queen dan Ismail Basbeth yang mampu melayang—ikut menonton, absurditas sudah terbangun. Ini bukan dunia di mana insan berperilaku mirip realita, kultur dan teknologi bagai berasal dari cerita, pun nalar tidak bekerja “sebagaimana mestinya”.

Kreativitas ilham liar Faozan Rizal dalam membangun dunia memang menarik, sama menariknya dengan bagaimana sang sutradara, yang lebih dikenal sebagai sinematografer, menimbulkan Abracadabra salah satu suguhan visual paling unik serta memanjakan mata dalam perfilman Indonesia. Terkesan quirky dan banyak dihiasi warna pastel, tidak salah bila ingatan eksklusif tertuju pada karya-karya Wes Anderson, khususnya The Grand Budapest Hotel (2014).

Ragam warna pembungkus latar termasuk kantor polisi berwarna merah muda di tiap sudut, mise-en-scène yang memperhatikan betul presisi penempatan objek termasuk pemain film secara detail, pesawat dan kendaraan beroda empat mainan yang berjalan di atas sebuah peta untuk menggambarkan perjalanan Lukman, kostum-kostum ala pertunjukan panggung megah, menciptakan pemandangan pemuas mata, yang memberikan apa akibatnya jikalau perkawinan empat departemen, ialah penyutradaraan, sinematografi, tata kostum, dan art direction, berlangsung mulus.

Hampir tiap shot bisa di-capture sebagai wallpaper, untuk lalu diamati terkait luar biasanya Faozan dan tim memperhatikan detail. Visualnya memang mensugesti. Tapi seperti orang dihipnotis, hati terasa hampa. Ceritanya tenggelam dalam eksperimentasi gambar dan gaya. Padahal sejatinya, cerita Abracadabra sederhana saja. Tentang perjalanan karakternya memahami, mempercayai, kemudian akibatnya mendapatkan.

Dikisahkan, kotak milik Lukman terbuat dari kayu Yggdrasil, pohon dari mitologi Norse, yang menghubungkan sembilan dunia. Silahkan cari tahu beberapa dongeng soal Yggdrasil dan mitologi Norse secara umum, termasuk tentang konsep waktu yang tidak linear dalam mitologi itu. Anda akan mampu memecahkan garis besar teki-teki Abracadabra. Tapi adanya makna tersirat dan metafora tidak berbanding lurus dengan kualitas penceritaan. Terpenting yakni pengemasannya. Dan di sini, rasa dalam drama kehidupan Lukman lenyap. Bernasib sama yaitu kualitas akting Reza Rahadian.

Jangan salah, Reza tidak pernah jelek. Hanya saja, kesan Istimewa yang kerap mengiringi kemunculannya urung nampak. Dia tak kuasa memperbaiki penokohan membosankan Lukman, seorang pria gloomy di antara dunia sarat keceriaan. Abracadabra mengandung dua sisi yang tak pernah mampu melebur. Tuturan komersil ringan bersenjatakan lawakan receh yang cukup efektif memancing tawa berbenturan dengan kontemplasi kelam. Ketimbang saling mengisi, pertemuan keduanya melahirkan inkonsistensi. Film ini kental dampak Wes Anderson, dan sulit tidak berharap Faozan mau sepenuhnya menempuh jalur komedik mirip Anderson.

Proses batin protagonisnya gagal dieksplorasi, sehingga saat balasannya dia mencapai destinasi, transformasi internalnya kurang meyakinkan. Sungguh saya ingin menyukai Abracadabra, khususnya sebab totalitas para pembuatnya melahirkan parade visual luar biasa patut diacungi jempol. Tapi patut disadari bahwa urgensi di industri perfilman kita adalah soal perbikan penulisan naskah, bukan gambar cantik.

Related Posts

Post a Comment

Subscribe Our Newsletter