The Two Popes, selaku penyesuaian pertunjukan panggung The Pope ciptaan Anthony McCarten (The Theory of Everything, Darkest Hour, Bohemian Rhapsody) yang turut menulis naskah filmnya, mungkin banyak mengandung kerancuan fakta. Tapi ketimbang biografi berakurasi tinggi, dongeng soal pertemuan Paus Benediktus XVI alias Joseph Ratzinger (Anthony Hopkins) dan Kardinal Jorge Mario Bergoglio (Jonathan Pryce) yang kelak akan terpilih sebagai Paus dengan nama Paus Fransiskus ini memang lebih tepat disebut cita-cita, atau imajinasi atas kondisi ideal dalam dunia religius, yang memunculkan kehangatan di tengah meningkatnya apatisme terhadap relevansi agama remaja ini.
Sepeninggal Paus Yohanes Paulus II, Gereja mengadakan pemilihan untuk Paus gres. Joseph Ratzinger dari pihak konservatif jadi kandidat terkuat, dan jadinya dia memang terpilih, namun Jorge Mario Bergoglio di luar dugaan mampu memberi perlawanan. Bergoglio sendiri tak tertarik memimpin, tapi sosoknya dibutuhkan bisa mendatangkan perubahan. Berpikiran terbuka, punya pendekatan humanis, menggemari sepak bola juga lagu-lagu ABBA, Uskup Agung asal Argentina ini diyakini mampu membawa Gereja mengikuti perkembangan zaman. Apalagi sesudah skandal Vatikan mencuat, ditambah banyaknya perkara pedofilia di kalangan Pendeta.
Merasa tak lagi sejalan, Bergoglio berniat mengajukan pengunduran diri, tapi sebelum itu terjadi, Benediktus XVI mengundangnya ke Roma. Keduanya pun terlibat banyak pembicaraan, dari perdebatan soal sudut pandang berlawanan terkait beberapa hukum agama, sampai obrolan intim hati ke hati dikala Benediktus XVI mengakui krisis kepercayaan di hati sedangkan Bergoglio mengungkap kurun kemudian kelamnya periode Perang Kotor pecah dan kediktatoren militer berkuasa di Argentina selama 1978-1983.
Sebagaimana pertunjukan teater, filmnya didominasi tuturan lisan lewat perbincangan kedua figur Nasrani yang dibungkus sinematografi garapan César Charlone (City of God, American Made) yang kadang tampak megah meski sesekali juga menampilkan kekosongan serupa keadaan hati dua protagonisnya. Lalu sempat juga kita dibawa memasuki flashback mengenai kala kemudian Bergoglio. Dikemas menggunakan visual hitam putih, fase ini justru jadi titik lemah The Two Popes. Eksekusinya tidak buruk, di mana bencana demi tragedi tetap berhasil menyesakkan hati sebagaimana itu mengguncang batin Bergoglio, tapi cukup mengganggu aliran nyaman yang sudah dibangun sutradara Fernando Meirelles (City of God, The Constant Gardener) bersama kedua bintang film utamanya.
Kekuatan terbesar The Two Popes memang terletak pada obrolan yang dilontarkan oleh dua penampil seniornya lewat kejelian luar biasa ihwal memainkan dinamika tutur dan rasa. McCarten terpelajar mengambil beberapa ucapan karakternya di dunia konkret untuk ditempatkan secara sesuai sehingga melahirkan momen besar lengan berkuasa. “Forgiveness is not enough. Sin is more than a stain. Sin is a wound. It needs to be treated, healed” dan “When no one is to blame, everyone is to blame” merupakan beberapa di antaranya.
Membahas sederet isu penting bahkan sensitif tak seketika menimbulkan The Two Popes terasa serius atau berat, sebab McCarten menyelipkan kejadian maupun ucapan menggelitik (khususnya dari ekspresi Bergoglio), yang membawa filmnya ke ranah buddy comedy. Tujuannya bukan semata meringankan penceritaan, pula memanusiakan kedua karakternya. Mungkin pada kenyataannya, mungkin Paus Benediktus XVI dan Bergoglio tak terlibat percakapan secair itu, dan memang keduanya baru bertatap muka setelah Bergoglio disahkan sebagai Paus Fransiskus (pun aku yakin tidak sambil menonton final Piala Dunia 2014).
Tapi dengan begini, alih-alih dua figur besar agama yang terasa jauh dari jangkauan, penonton dibuat menyaksikan dua manusia lanjut usia biasa, yang seiring waktu, berusaha berdamai dengan dosa langsung, juga dengan satu sama lain, guna mengesampingkan perbedaan atas nama agama sekaligus keberlangsungan umat. Hopkins, di usia 81 tahun, terbukti masih mempunyai sensitivitas rasa dalam menghidupkan kekacauan hati Paus Benediktus XVI, sedangkan Pryce punya kapasitas untuk membuat penonton mudah menyukainya—sebagaimana Paus Fransiskus di dunia kasatmata—bahkan sesudah membuka rahasia masa lalunya. Andai lebih banyak pemuka agama apa pun bersikap layaknya Bergoglio di film ini…..
Available on NETFLIX



Post a Comment
Post a Comment