Iago. Nama antagonis dalam drama Othello karya William Shakespeare tersebut digunakan sebagai nama sandi seorang figur rahasia dalam adaptasi novel nonfiksi Namsanui Bujangdeul buatan Kim Choong-Sik ini. Apakah terdapat signifikansi? Secara tersirat, ya, alasannya The Man Standing Next melibatkan konspirasi kudeta, pertumpahan darah, dan tragedi, sehingga memberinya rasa “Shakesperean”.
Pada 26 Oktober 1979, presiden ketiga Korea Selatan, Park Chung-hee (hanya dipanggil “Presiden Park” di sini, diperankan Lee Sung-min), dibunuh oleh ketua Korean Central Intelligence Agency (KCIA), Kim Jae-gyu, yang namanya juga disamarkan menjadi Kim Kyu-pyeong (Lee Byung-hun). Peristiwa itu bukan rahasia, dan filmnya tak berupaya merahasiakan itu, dengan menjadikannya sekuen pembuka. Kita tahu sejak awal bahwa Kim menembak mati Presiden Park. Tapi kenapa?
Kenapa ketua KCIA yang amat loyal, tolong-menolong melahirkan Republik Ketiga Korea melalui perebutan kekuasaan 16 Mei, dan berkali-kali menyatakan “siap terus bangkit di samping presiden” melaksanakan itu? Sepanjang 114 menit, naskah buatan Woo Min-ho (juga duduk di bangku sutradara) dan Lee Ji-min pelan-pelan menjawab itu. Semuanya diawali pemberontakan Park Yong-kak (Kwak Do-won), mantan ketua KCIA yang diasingkan, bersaksi memberatkan pemerintah Korea Selatan di pengadilan Amerika Serikat.
Di mata dunia (baca: Amerika), nama Presiden Park memang sudah tercoreng. Kediktatoran Presiden Park yang telah memerintah selama 16 tahun atau lima era, dianggap sudah waktunya berakhir. Di memoarnya, Park Yong-kak menyebut Presiden Park merasa masih berada di medan perang sebagaimana saat memulai kudeta dahulu. Sang presiden marah. Tapi di lain kesempatan, ketika makan malam bersama Kim, Presiden Park menyatakan bahwa minuman terenak ialah yang dia teguk selama perang, secara tersirat membenarkan tudingan di atas.
Ketersiratan semacam itu kerap dipakai The Man Standing Next untuk memperkuat narasi sekaligus memahami tiap karakternya. Kedua penulis naskah tahu kalau kisahnya sudah mengandung aneka macam intrik rumit, sehingga eksplorasi aksara lewat metode konvensional dapat menyita lebih banyak waktu. Dengan begini, selama penonton meluangkan atensi, pemahaman menyeluruh mampu didapat.
Ketika Kim meminta Presiden Park biar memandang politik secara lebih luas, kita paham jikalau ketua KCIA ini, walau mungkin bukan seorang humanis, lebih kooperatif era berpolitik, yang juga nampak pada kesediaannya berdialog dengan pihak Amerika. Sebaliknya, Presiden Park berpikiran sempit, seorang diktator tulen yang lebih menyukai televisi hitam-putih ketimbang televisi berwarna (perlambang persepsi sempit dan luas).
Serupa kebanyakan thriller bertema politik sarat konspirasi, The Man Standing Next mengandung setumpuk permasalahan, melibatkan tidak sedikit nama, pula mengambil latar di cukup banyak tempat. Tapi tidak perlu repot-repot berusaha menghafalkan keterangan lokasi serta waktu yang berganti tiap beberapa menit sekali. Cukup perhatikan kalimat-kalimat dari verbal karakternya. Untungnya gaya penceritaan Woo Min-ho sangat membantu. Temponya cenderung agak lambat demi memudahkan penonton memproses isu.
Alurnya bergerak penuh kesabaran, namun tidak jalan di kawasan. Kisahnya selalu berprogres, padat, melahirkan misteri menegangkan hasil ketidaktahuan penonton.....dan Kim. Ya, di antara tokoh-tokohnya, malah si protagonis yang paling sedikit tahu soal apa pun. Ketidaktahuan yang menyulut kecemasan, kecemasan yang mampu ditampilkan begitu kasatmata oleh Lee Byung-hun di balik wajah keras dan postur kokohnya yang sekilas tidak mungkin diruntuhkan, namun sejatinya begitu ringkih. Bahkan mungkin ia sendiri kebingungan memilih tujuan dari tindakannya (diwakili simbol sebelah sepatu yang hilang). Kebingungan itu bermuara pada kejadian yang memantapkan status The Man Standing Next sebagai sebuah “Shakesperean”.



Post a Comment
Post a Comment