Terlepas dari hasil jadinya, “Anggy Umbara” dan “main kondusif” tidak pernah eksis secara bersamaan. Begitu pula di Si Manis Jembatan Ancol, remake dari film berjudul sama rilisan tahun 1973, yang dibuat menurut urban legend masyarakat Betawi, meski masyarakat umum mungkin lebih dekat dengan dua animo sinetron yang begitu populer pada masa 90-an, hingga melahirkan satu lagi pembiasaan layar lebar di tahun 1994. Melalui naskah hasil tulisannya bersama Fajar Umbara (Mata Batin, Sabrina) dan Isman HS (5 Cowok Jagoan: Rise of the Zombies, Flight 555), Anggy melakukan modernisasi.
Berlatar tahun 1973, kisahnya berpusat pada keretakan rumah tangga Maryam (Indah Permatasari) dan Roy (Arifin Putra), terlebih sehabis bisnis Roy berantakan sampai membuatnya terlilit hutang besar pada Bang Ozi (Ozy Syahputra), seorang lintah darat. Sebagai istri, Maryam merasa kurang dihargai, namun tetap berusaha menjaga keharmonisan rumah tangga, bahkan setelah kedatangan pelukis bernama Yudha (Randy Pangalila) yang mengakibatkan Maryam sebagai objek. Si Manis jatuh hati, namun yang hadir justru peristiwa.
Tragedi yang tidak tiba secepat itu, mengingat filmnya lebih banyak berkutat dalam drama hingga sekitar 50 menit durasi (dari total 117 menit), ketika kita alhasil dibawa mengunjungi jembatan Ancol yang legendaris. Maksudnya baik. Supaya penderitaan Maryam, korelasi terlarangnya dengan Yudha, juga kesulitan finansial Roy tergali utuh. Tapi apakah terlalu panjang? Ya. Bisakah dipadatkan? Sangat bisa. Perjalanan sejam pertamanya cukup bertele-tele, menampilkan banyak hal tak perlu, seperti keputusan Bang Ozi terus memberi perhiasan waktu bagi Roy atau red herring terkait keangkeran rumah Yudha.
Setidaknya selama itu, hampir seluruh departemen berkontribusi maksimal. Anggy semakin matang (kalau tak bisa disebut cukup umur) baik urusan menulis maupun menyutradarai, dengan lebih berkonsentrasi pada merapikan pemikiran alur ketimang melempar gimmick. Tata dekorasi plus kostum pembangun latar kala lalunya pun cukup konsisten dan memanjakan mata, apalagi gaun merah Maryam yang membuatnya otomatis jadi pusat atensi di tiap kemunculan. Satu elemen yang mengganggu adalah rambut palsu Randy Pangalila, yang kala digerai jauh dari kesan alamiah, tapi kalau diikat, sosoknya bak jagoan dari periode Angling Dharma.
Melihat pilihan artistik, tema balas dendam, serta statusnya sebagai remake judul klasik, mungkin Si Manis Jembatan Ancol akan mengingatkan banyak penonton kepada Suzzanna: Bernapas Dalam Kubur (2018). Ditambah lagi keberadaan unsur komedi yang sayangnya hanya berhasil memancing tawa jika banyolannya terlontar dari mulut Arief Didu sebagai Bang Kribo si pemilik warung.
Paruh kedua sepenuhnya mengesampingkan plot, untuk merangkai menit-menitnya memakai pembantaian demi pembantaian yang dilakukan arwah Maryam selepas dia tewas di tangan Bang Ozi dan anak buahnya. Anggy menggabungkan jump scare (termasuk di lima adegan mimpi yang pengulangannya tak sampai mengesalkan alasannya punya pemicu terang: ketakutan dan rasa bersalah) dan elemen kekerasan. Agak disayangkan dikala beberapa sadisme terjadi off-screen (mengacu pada bumper LSF, kemungkinan terdapat revisi), meski kita tetap disuguhi aftermath brutal yang menampilkan kondisi mayat mengenaskan.
Mengandalkan kesan misterius, kesenduan, serta kemarahan yang menyatu di sorot matanya, Indah Permatasari berhasil menghapus bayang-bayang para pemeran Si Manis sebelumnya dengan, melahirkan versinya sendiri yang sejalan dengan modernisasi Anggy. Sementara Ozy Syahputra, dengan kumis dan berewok ditambah agresi kejam karakternya, melepaskan diri dari kecentilan sosok Karina dalam sinetronnya dulu. Bahkan di sini Ozy diberikan salah satu momen paling mencengangkan sepanjang film, yang menegaskan upaya Anggy bermain-main dengan stereotip gender dalam horor.
Di ranah dunia, menyelipkan empowerment dalam horor bukan masalah baru, tapi masih langka di perfilman lokal. Anggy dan tim penulisnya berani melaksanakan itu, termasuk melalui twist yang tak kalah berani bahkan berpotensi memecah opini penonton. Saya menyukainya. Sebuah langkah kreatif meski meninggalkan beberapa lubang alur. Masalah justru muncul terkait keputusan filmnya tak memberi kesempatan si tokoh utama menyelesaikan segalanya. Selain Maryam berhak mendapatkannya, keputusan tersebut berlawanan dengan pesan empowerment-nya. Andai itu dilakukan, niscaya Si Manis Jembatan Ancol akan jauh lebih memuaskan.



Post a Comment
Post a Comment