Ads 720 x 90

Fiksioner Free Blogger Theme Download

Ip Man 4: The Finale (2019)

Sejak film perdananya pada 2008 lalu sampai Ip Man 4: The Finale selaku epilog, Ip Man (Donnie Yen) bak insan tepat. Tidak terkalahkan dalam pertarungan, berhati mulia, sosoknya pun mendekati deus ex machina yang kehadirannya bagai jaminan terselesaikannya masalah apa saja. Tapi dalam film seri garapan Wilson Yip ini, elemen yang biasanya dianggap kekurangan tersebut malah disulap jadi keunggulan. Ip Man ialah pendekar yang bisa menciptakan penonton bangun di belakangnya, karena perjuangannya selalu didasari kepedulian, baik kepada orang-orang terdekat yang beliau cintai maupun para korban ketidakadilan.

Semenjak ajal sang istri yang selalu jadi alasan perjuangannya, Ip Man didiagnosis menderita kanker tenggorokan. Di tengah keterbatasan waktunya, Ip masih harus mengurusi putera keduanya, Ip Ching (Ye He), yang memberontak, dikeluarkan dari sekolah, dan melawan segala perintah sang ayah. Dia menolak bersekolah, ingin total menekuni martial arts. Ip Man menentang itu, lalu memilih mencarikan sekolah baru di San Francisco, Amerika Serikat, dengan tunjangan Bruce Lee (Danny Chan), muridnya yang mempopulerkan Wing Chun di sana.

Sejak menampilkan Mike Tyson di Ip Man 3, kita tahu seri ini sudah semakin gamblang menanggalkan sampul biografi untuk berkonsentrasi menyajikan tabrak-berkelahi bela diri segila mungkin. Pola itu dilanjutkan, di mana film keempatnya bahkan berani menyentuh ranah fan service guna memuaskan ekspektasi penonton, dengan memberi porsi lebih besar kepada Bruce Lee. Danny Chan bisa mereproduksi berbagai ciri sang legenda, mulai dari arogansi, teriakan khas, sampai gestur sewaktu beradu jurus, termasuk one inch punch yang terlihat meyakinkan.

Ditulis naskahnya oleh empat nama, termasuk Edmond Wong dan Tai-lee Chan yang terlibat semenjak film perdana, Ip Man 4: The Finale sejatinya memiliki alur sarat simplifikasi, bahkan cenderung konyol yang mengingatkan akan film-film kelas b. Agar puteranya bisa bersekolah di San Francisco, Ip mesti menerima surat rekomendasi dari ketua Chinese Consolidated Benevolent Association (CCBA), Wan Zong Hua (Wu Yue). Wan bersedia, dengan syarat Ip mampu menciptakan Bruce menutup sekolah Wing Chun yang ia dirikan. Menurut Wan dan anggota CCBA lain, tidak seharusnya Bruce mengajarkan seni bela diri Cina kepada orang Amerika yang telah berlaku rasis terhadap mereka.

Menyusul berikutnya ialah rangkaian konflik yang melibatkan masalah puteri Wan, Yonah (Vanda Margraf), di sekolah, yang memicu perseteruan CCBA dengan pihak imigrasi, sampai perjuangan Hartman Wu (Vanness Wu), anggota marinir sekaligus murid Bruce Lee, menerapkan Wing Chun sebagai kurikulum pelatihan yang memancing perselisihan dengan Barton Geddes (Scott Adkins), atasannya yang rasis.

Seluruh elemen di atas nantinya saling bersinggungan secara begitu menggelikan. Fokus naskahnya cuma mempertemukan satu petarung dengan petarung lain, melupakan benih persoalan rumit seputar rasisme yang ditabur di awal. Masyarakat Amerika memang merendahkan masyarakat Cina, namun bukankah sakit hati Wan dan mitra-kawan berujung melahirkan sikap serupa, termasuk ketika melarang Bruce mengajarkan Wing Chun? Tiada resolusi niscaya atas hal ini, meski Ip Man 4: The Finale terperinci menggambarkan masyarakat Cina lebih terhormat ketimbang Amerika.

Di satu titik, tangan kiri Ip mengalami cedera. Mengetahui itu, di tengah pertarungan keduanya, Wan menentukan hanya menggunakan satu tangan. Sebaliknya, Barton malah sengaja mengeksploitasi kelemahan tersebut. Apalagi jajaran pemeran Baratnya memperlihatkan performa menyedihkan layaknya pemain-pemain amatir dalam film-film pelajar. Hanya Scott Adkins yang mampu meninggalkan kesan. Bukan lewat aktingnya tentu saja, melainkan fisik prima serta kemampuan bela diri luar biasa, yang mengakibatkan Barton salah satu musuh paling berbahaya di franchise ini, yang mampu menciptakan si master Wing Chun berdarah-darah.

Lain cerita bila membicarakan adegan berkelahi. Wilson Yip sudah khatam urusan mengkreasi baku hantam over-the-top beroktan tinggi yang bisa menangkap keseluruhan detail koreografi. Bahkan aksi saling dorong meja beling lingkaran saja menciptakan pemandangan menegangkan. Saya dibentuk menahan napas menyaksikannya, apalagi dikala musik bombastis gubahan Kenji Kawai yang telah menduduki posisi composer sejak film pertama, memperkuat intensitas masing-masing adegan, ditambah lagi imbas bunyi pukulan dan tendangan yang membuat pengaruh dari tiap serangan terasa aktual.

Ip Man 4: The Finale merupakan perpisahan yang layak terhadap tugas paling ikonik Donnie Yen, yang berbekal kharisma luar biasa, mampu memancing gemuruh seisi studio hanya dengan menampakkan diri di tengah medan pertempuran. Yen tidak pernah kehilangan wibawa, sekalipun saat mendapatkan pukulan. Satu kelebihan Donnie Yen yang jarang dimiliki pemeran sabung lain adalah aura hangat dan kelembutan yang menimbulkan sosok Ip Man bukan hanya soal otot, tapi juga hati.

Related Posts

Post a Comment

Subscribe Our Newsletter