Ads 720 x 90

Fiksioner Free Blogger Theme Download

Eggnoid: Cinta & Portal Waktu (2019)

Saya yakin, di luar tujuan finansial, salah satu alasan Visinema Pictures mengadaptasi aneka macam judul webtoon dengan bermacam-macam khayalan liarnya—yang diawali oleh Terlalu Tampan Januari kemudian—ialah memberikan kesejukan bagi tema-tema usang. Demikian pula Eggnoid: Cinta & Portal Waktu yang diadaptasi dari karya Archie The RedCat, di mana elemen fiksi ilmiah disuntukkan dalam tuturan romansa sampaumur dan drama perihal proses individu menyembuhkan murung.

Tepat di ulang tahunnya yang ke-17, Ran (Sheila Dara), gadis Sekolah Menengan Atas yang hidupnya dipenuhi kesedihan setelah akhir hayat kedua orang tuanya akibat kecelakaan, menemukan sebuah telur bercahaya misterius. Dari telur itu keluar sosok mirip insan yang disebut Eggnoid. Ternyata, Eggnoid yang olehnya diberi nama Eggy (Morgan Oey) itu dikirim dari kala depan guna membahagiakan Ran, menghilangkan kabut kelam bernama duka yang sudah terlalu lama menyelimuti kesehariannya.

Kalau sudah membaca webtoon-nya, anda tahu naskah buatan sutradara Naya Anindita (Sundul Gan: The Story of Kaskus, Berangkat!), Nurita Anindita (Terlalu Tampan), Yemima Krisantina, dan Indriani Agustina, melewatkan salah satu bab paling menarik, adalah proses belajar pendewasaan serta pembiasaan Eggy, dari bayi bertubuh pria remaja yang hanya mampu berkata “mama”, menjadi seperti manusia normal. Bahkan menyelipkan montage pun tidak. Agak disayangkan, alasannya selain punya potensi tinggi memproduksi tawa, Morgan terbukti bisa mengeluarkan kekonyolan di balik kepolosan kanak-kanak seorang laki-laki cukup umur. Bayangkan melihat Eggy miliknya kesulitan mencar ilmu memakai baju dan lain sebagainya.

Filmnya memilih pribadi lompat menuju dua tahun berikutnya, sewaktu Ran mulai membaik. Dengan kepolosannya, Eggy, yang tinggal bersama Ran dan Diany (Luna Maya), tantenya—yang hanya mau dipanggil “abang”—bisa mengembalikan tawa sang gadis. Eggy sendiri mulai menyesuaikan diri dengan dunia luar, sesudah bekerja di toko es krim kepunyaan Tania (Anggika Bolsterli). Satu hal yang mestinya di titik ini telah dipahami produser dan sineas. Menempatkan Anggika Bolsterli dalam tugas komedik mampu mengatrol daya hibur suatu film, yang kembali dibuktikannya di sini melalui reaksi-reaksi komikal lovable, yang menciptakan kita paham mengapa Zen (Reza Nangin) terpikat pada Tania di pandangan pertama.

Zen dan Zion (Martin Anugrah) merupakan dua orang dari abad depan yang bertugas mengawasi Eggy, menjaga si Eggnoid supaya tidak menyalahi aturan. Di situ pangkal permasalahannya. Eggnoid dihentikan jatuh cinta apalagi memacari majikannya. Dan Eggy, pasca menerima kecupan di pipi, sadar bahwa beliau menyayangi Ran. Mencapai demam isu keempat yang masih bergulir sampai kini, Eggnoid versi Webtoon menyimpan mitologi menarik dan cakupan luas, yang dibangun lewat penceritaan jangka panjang. Bisa diapahami dikala film ini menentukan menyederhanakannya.

Penyederhanaan yang naskahnya lakukan cukup banyak, tapi poinnya bukan di “seberapa berbeda”, namun bisa atau tidaknya para penulis mengubah tanpa menghilangkan esensi. Eggnoid: Cinta & Portal Waktu sukses melaksanakan itu, menjalin sebuah romantika ringan yang memakai elemen fiksi ilmiahnya sebagai faktor penyegar guna mengurangi familiaritas dengan formasi film percintaan anak muda yang banyak bertebaran.

Tahun 2019 benar-benar titik lonjakan karir Sheila Dara. Setelah sobat yang mencuri perhatian di Bridezilla dan perempuan misterius dalam Ratu Ilmu Hitam, kali ini ia kembali memikat sebagai gadis kesepian yang seringkali clingy setelah Eggy melenyapkan kesepian tersebut. Membuat kita bersimpati terhadap Ran sehingga memberi nyawa kepada romansanya, Eggnoid: Cinta & Portal Waktu adalah pembuktian dari Sheila, bila beliau sudah lebih dari siap mengemban posisi peran utama.

Kembali soal penyederhanaan, mencapai babak konklusi, naskahnya seolah “kaget” saat coba sedikit menggali wacana latar belakang Eggnoid. Dari kisah cinta ringan, lompatan menuju unsur fiksi ilmiah yang menyelipkan sekelumit filosofi soal ambiguitas benar/salah dalam hidup, gagal berjalan mulus. Merangkum nilai yang sedikit kompleks lewat beberapa baris kalimat dari lisan abjad yang gres muncul di tamat terperinci bukan keputusan bijak. Apalagi saat filmnya terkesan ditutup tiba-tiba oleh konklusi yang lebih banyak memancing pertanyaan mengganjal ketimbang efek emosi, biarpun niatnya memang membuka jalan bagi sekuel.

Setidaknya kekurangan tersebut bisa dimaafkan, sebab Eggnoid: Cinta & Portal Waktu punya salah satu momen paling emosional dalam film Indonesia sepanjang tahun (bukankah ini selalu jadi kebolehan judul produksi Visinema Pictures?), yang turut melibatkan Marissa Anita dalam penampilan singkat namun berkesan lewat penanganan penuh rasa akan kalimat sederhana. Silahkan berusaha menahan haru dikala filmnya mengungkap proses terciptanya foto polaroid yang tergantung di kamar Ran. Melalui momen itu saja, meski melewati banyak penyederhanaan, film ini sudah menerangkan kesuksesannya memanfaatkan elemen fiksi ilmiah demi menunjang paparan drama.

Related Posts

Post a Comment

Subscribe Our Newsletter