Ads 720 x 90

Fiksioner Free Blogger Theme Download

1917 (2019)

1917 punya adegan di mana kedua protagonis diperintahkan oleh atasan untuk menembakkan suar selepas melewati no man’s land. Sang atasan, yang telah dikuasai keputusasaan sehabis melalui perang tanpa henti yang memakan banyak nyawa, ragu keduanya bakal berhasil. Keraguan tersebut terbantah dan suar pun dilepaskan. Di film lain, reaksi si atasan pasti diperlihatkan, mungkin dibarengi kalimat “Those son of bithces made it” atau semacamnya. Tapi di sini kita bahkan tidak tahu apakah si atasan melihat suar tersebut, alasannya adalah sepanjang durasi, kamera tak sekalipun meninggalkan karakter utamanya.

Dikemas dengan trik yang mengesankan seolah filmnya diambil memakai teknik single take, karya terbaru sutradara Sam Mendes (American Beauty, Skyfall, Spectre) ini memang lebih mengedepankan “experience” ketimbang penceritaan beralur konvensional. Tepatnya pengalaman dua prajurit Inggris di tengah medan baku tembak Perang Dunia I. Tujuannya yaitu menciptakan penonton mencicipi apa yang keduanya rasakan.

Kedua prajurit itu ialah Kopral Tom Blake (Dean-Charles Chapman) dan Kopral Will Schofield (Geroge MacKay), yang diperintahkan Jenderal Erinmore (Colin Firth) mengirimkan pesan kepada Resimen Devonshire agar menghentikan serangan. Resimen beranggotakan 1.600 orang tersebut awalnya bersiap menyerbu pasukan Jerman yang ditengarai telah mundur dari garis depan. Tapi hasil pengintaian udara memberikan bahwa bukannya terpukul mundur, Jerman justru tengah memasang perangkap, memancing pasukan Inggris semoga menyerbu. Tom Blake diutus mengemban misi sebab dalam resimen itu tergabung pula Letnan Joseph Blake (Richard Madden), kakaknya.

Blake dan Schofield harus menembus daerah-kawasan berbahaya di garis depan peperangan, dan kamera Roger Deakins (yang saya yakin akan kembali memenangkan Oscar) selalu mengiringi perjalanan mereka tanpa putus. Setidaknya terksesan demikian, karea jika teliti, anda dapat menemukan beberapa jahitan rapi untuk menyatukan cuilan-serpihan adegan. Tapi bahkan tanpa penyuntingan pun, hanya dalam sekali pengambilan dan satu kamera, Deakins bisa melaksanakan apa yang biasanya dilakukan lebih dari sekali.

Contohnya ketika Erinmore memberi pengarahan. Begitu mulus kameranya bergerak guna memindahkan fokus dari Blake dan Schofield ke arah sang Jenderal. Padahal normalnya, adegan mirip ini membutuhkan minimal tiga shot: dua over-the-shoulder shot (sudut pandang tiap abjad yang berinteraksi) plus satu master shot (menangkap semua huruf). Tentu ini mampu dicapai juga berkat penataan mise-en-scène Sam Mendes, yang nantinya mencapai puncak pencapaian pada pertempuran klimaks epic penuh detail kompleks tatkala ratusan tentara beradu di peperangan sebagai latar belakang.

Apakah ini bentuk pamer? Ya, tapi bukan cuma itu. Di balik pencapaian teknis luar biasanya, pilihan gaya ini menyimpan maksud tersendiri. Pertama, 1917 merupakan eksplorasi ruang, baik yang terlihat maupun tak terlihat, yang semuanya bermuara ke satu tujuan: pengalaman kasatmata. Pada ruang terlihat (tentunya dibarengi konsistensi luar biasa soal kontinuiti), penonton mampu tahu, di sebelah titik A terdapat apa, ada di mana lokasi B, dan seterusnya. Kita pun memahami medan perangnya terdiri atas apa saja, yang otomatis menyulut kekaguman terkait besarnya cakupan set yang dibangun.

Desain produksinya tidak main-main. Di tiap lokasi, jika diperhatikan dengan cermat, anda akan menyadari bahwa Sam Mendes bersama tim artistiknya menaruh perhatian sampai detail terkecil. Mayat bergelimpangan di film perang itu biasa. Menjadi luar biasa dikala jenazah yang nyaris sepenuhnya terkubur dan cuma terlihat sebagian kerap ditemui. Sementara eksplorasi ruang tak terlihatnya berfungsi membangun ketegangan.

Penggunaan “single take  yang memposisikan penonton di ruang yang sama dengan karakternya, membuat kita hanya mampu melihat apa yang mereka lihat. Seperti mereka, kita tidak tahu apakah ada jebakan terpasang, apakah ada musuh bersembunyi, dan sebagainya. Tapi penonton dan karakternya sama-sama tahu, di luar sana ada ancaman menanti, memancing sense of impending doom. Kecemasan meningkat, kesan atmosferik menguat. Apalagi sewaktu Mendes beberapa kali menghilangkan musik termasuk ambient.

Walau demikian, ada kalanya musik gubahan Thomas Newman berperan besar. Contohnya saat filmnya mencapai Écoust-Saint-Mein, desa yang telah luluh lantah dibombardir pasukan Jerman. Mengiringi malam kelam yang diterangi suar-suar di langit, mendadak musiknya memperdengarkan orkestra. Mendes menyebabkan malam mencekam itu kolam opera megah yang memainkan pertunjukan bertemakan garis batas tipis antara hidup dan mati.

Sebagai dua manusia di tengah neraka, MacKay dan Chapman mengerahkan segala daya upaya, menekankan realisme dalam melakoni peran dua prajurit yang tersiksa fisik dan batinnya, sehingga penonton dapat mencicipi hal serupa. Di luar mereka berdua, 1917 memberi bonus berupa deretan cameo nama-nama besar. Hanya saja jangan berharap nama-nama tersebut diberi porsi signifikan, atau anda bakal kecewa.

Di permukaan, naskah yang ditulis Mendes bersama Krysty Wilson-Cairns terkesan tipis, karena memang mirip telah disebutkan, 1917 lebih mengarah kepada pengalaman ketimbang penuturan. Satu-satunya kelemahan muncul di sini. Terkadang sebuah ketiadaan diseret terlalu lama, jauh lebih lama dari yang diperlukan biar penonton merasakan apa yang Mendes ingin kita rasakan. Filmnya pun sempat melelahkan, namun bukan berarti terkait kisah, tak ada yang coba disampaikan.

1917 menuturkan drama kemanusiaan berlatar peperangan tanpa secara gamblang menyatakan itu. Ketimbang perihal menghilangkan nyawa, ini adalah perihal menyelamatkan nyawa. Dan untuk melakukan itu, para prajurit dituntut berjuang total termasuk mempertaruhkan nyawa mereka sendiri. Ending-nya menegaskan itu. Apabila anda menaruh perhatian lebih, konklusinya takkan mengejutkan. Tapi kejutan bukan poin utamanya, melainkan bagaimana satu momen singkat di penghujung durasi itu seketika mengakibatkan perjuangan protagonisnya semakin bermakna. 

Related Posts

Post a Comment

Subscribe Our Newsletter