Seperti sempat aku singgung di ulasan Teman tapi Menikah 2, penonton kita sedang jatuh hati pada penyesuaian Wattpad bertema romansa dewasa yang membawa ciri-ciri seperti judul “aneh”, gombalan unik (baca: abstrak), dan tipikal bad boy yang cenderung brengsek ketimbang keren. Mariposa, yang diangkat dari kisah buatan Luluk HF, sebetulnya turut mengusung formula serupa, tapi pendekatan ringan lewat sentuhan humor dan kemasan artistik yang diberi perhatian, membuatnya unggul dibanding banyak kompatriotnya.
Acha (Adhisty Zara) menyukai sobat sekolahnya, Iqbal (Angga Yunanda). Tapi seperti sudah disinggung di atas, tentu saja Iqbal tidak membalas cinta Acha, bersikap cuek bahkan sedikit bernafsu padanya. Iqbal sangat kaku. Kekakuan yang dipicu tuntutan tinggi sang ayah (Ariyo Wahab), semoga Iqbal selalu jadi nomor satu di bidang akademis, termasuk menjuarai olimpiade sains tingkat nasional. Tujuannya adalah memperoleh beasiswa untuk berkuliah di Inggris. Iqbal punya alasan besar lengan berkuasa menghindari urusan percintaan. Kondisi tersebut berlawanan dengan keluarga Acha. Sang ibu (Ersa Mayori), yang seorang Army (penggemar BTS) sekaligus pengagum hal-hal berbau budaya populer Korea Selatan, mirip sahabat bagi Acha, yang bisa beliau ajak menyebarkan banyak hal termasuk perihal cinta.
Pun meski sesekali kelewatan, penolakan Iqbal bahu-membahu bisa cukup dipahami. Obsesi Acha bantu-membantu sering kelewatan. Dia selalu mengikuti Iqbal, terus menghubunginya, bersikap seolah keduanya berpacaran. Penanganan keliru dapat menimbulkan Acha abjad creepy, namun Zara ialah figur likeable yang mampu memberi kepolosan, sehingga bentuk obsesinya mampu dijustifikasi sebagai kenaifan polah cinta kera cukup umur.
Berlangsung selama hampir dua jam (117 menit), Mariposa mengalami stagnansi saat kisahnya sebatas tersusun atas repetisi-repetisi situasi saat Acha menarik hati Iqbal hanya untuk mendapatkan respon dingin. Jangan pula berharap ada eksplorasi mendalam mengenai metafora metamorfosis ulat jadi kupu-kupu (“mariposa” adalah Bahasa Spanyol yang berarti “kupu-kupu”) yang sejatinya cuma gimmick untuk membuai sasaran pasar bocah/remaja awal. Tidak banyak yang mampu dilakukan oleh Alim Sudio selaku penulis naskah adaptasinya.
“Perbaikan” yang dilakukan adalah memperlakukan romantikanya tidak terlalu serius, melalui selipan humor-humor segar. Tengok adegan di perpustakaan, atau sekuen menggelitik wacana “perjalanan kue keju Belanda”. Alhasil, walau ceritanya tidak banyak berprogres dan mempunyai durasi cukup panjang, Mariposa takkan terasa melelahkan. Apalagi visualnya cukup memanjakan mata, melalui penggunaan warna-warna pastel (khususnya kombinasi biru-merah muda) pada seragam dan properti serta pencahayaan lembut.
Selain stagnansi kisah, muncul juga problem perihal pembangunan intensitas di babak final yang menyoroti pelaksanaan olimpiade. Menyulap kegiatan mengerjakan soal tertulis jadi pemandangan menegangkan bukan kasus gampang, dan pengarahan Fajar Bustomi belum berhasil mencapai titik itu. Dan sewaktu lomba memasuki babak rebutan, pemakaian teknik quick cut guna meningkatkan dinamika justru kerap membuat pusing kepala.
Beruntung Mariposa menyimpan konklusi yang berhasil menjadi puncak emosi. Berpengalaman mengarahkan trilogi Dilan, Fajar tahu cara membuat momen menggemaskan berisi akreditasi cinta ala sampaumur, yang juga menyentuh hati berkat penampilan heartful Zara. Aktris muda ini memang tidak mampu dipandang remeh.



Post a Comment
Post a Comment