Ads 720 x 90

Fiksioner Free Blogger Theme Download

Guns Akimbo (2020)

Sutradara sekaligus penulis naskah Jason Lei Howden (Deathgasm) mungkin meyakini dirinya telah membuat produk abnormal-gilaan melalui suguhan agresi-komedi yang lebih “terasa video game dari pembiasaan layar lebar video game sungguhan. Tapi, meski sikap “semau gue” yang diusungnya menyenangkan, Guns Akimbo tidak segila yang dibayangkan (dan diperlukan) Howden.

Deretan soundtrack-nya membuatmu menghentakkan kaki, ada darah di sana-sini, jajaran pemain pun tampil apik tanpa menganggap semuanya terlampau serius. Tapi pada masa di mana pendekatan ala video game pernah dilakukan secara lebih ekstrim (tonton Hardcore Henry), sedangkan koreografi plus tata kamera dinamis mulai jadi tren di film agresi “serius” arus utama, sebatas menggerakkan kamera seliar mungkin tidak lagi terasa Istimewa.

Daniel Radcliffe memerankan Miles, programer komputer yang hidup sebagai pecundang. Sang bos selalu menjadikannya bulan-bulanan; kekasihnya, Nova (Natasha Liu Bordizzo) meninggalkannya; hari-harinya cuma diisi bermain video game dan memancing amarah para trolls di internet. Sampai ketika Miles menciptakan keributan di lembaga Skizm, sebuah kelab bawah tanah yang menyelenggarakan sekaligus menyiarkan pribadi pertarungan sampai mati antara kriminal-kriminal sinting.

Akibatnya, Miles disatroni pihak Skizm. Sepasang pistol ditancapkan di kedua tangannya, dan beliau dipaksa terlibat pertarungan hidup-mati melawan Nix (Samara Weaving), si pembunuh gila yang juga jawara Skizm. Walau sudah menjadi aturan tak tertulis di film aksi bahwa tidak semudah itu bagi seorang pendekar untuk terkena peluru, rasanya tetap mengganggu, saat Nix, yang mampu mengenai target dalam kendaraan beroda empat yang melaju kencang pula membantai sekelompok kriminal berbahaya seorang diri, kesulitan menembak Miles walau entah sudah berapa ratus peluru beliau lepaskan.

Tidak ada alur padat, hanya kejar-kejaran dan tembak-tembakan ala film agresi kelas b dicampur permainan shoot ‘em up, yang mengandalkan pengarahan penuh gaya sang sutradara. Howden, dibantu sinematografi garapan Stefan Ciupek, seolah menganggap kamera membisu sebagai hal tabu. Tidak usah sampai membahas keliaran gerak kamera dan penyuntingan dalam membungkus baku tembak yang turut diisi warna-warna berkontras tinggi, di luar adegan agresi pun, Guns Akimbo menolak diam. Kamera berputar, melakukan gerak spiral yang menghasilkan dua dampak berlawanan: kadang terkesan dinamis, tapi lebih sering menciptakan perut mual atau minimal sakit kepala.

Tapi aku merupakan pembohong kalau menyebut filmnya sepenuhya gagal memberi hiburan. Setidaknya, tempo cepat yang diterapkan Howden tidak memberi kesempatan pada rasa kantuk untuk menyerang. Seperti seseorang dengan tenaga berlebih yang bisa memberi semangat di hari-harimu, walau terkadang terasa mengesalkan. Tapi tidak ada yang mengesalkan dari performa dua pemain drama utama, khususnya Samara Weaving.

Radcliffe sebagai laki-laki pengecut yang konyol mampu memancing tawa lewat totalitasnya dalam mempermalukan diri sendiri, tapi Weaving, dengan umpatan-umpatan, teriakan manik, usikan menusuk, dan hirupan-hirupan kokain yang memacu adrenalinnya periode menghabisi musuh, adalah bintang utama. Mayhem (2017), The Babysitter (2017), Ready or Not (2019), Guns Akimbo, dan nantinya Snake Eyes di tamat 2020, aktris kelahiran Australia telah memantapkan image sebagai wanita tangguh yang tak ragu menumpahkan darah.

Guns Akimbo mencapai titik terbaik tiap kali Radcliffe dan Weaving mengembangkan layar, saling bertukar kelakar. Itulah kenapa babak ketiganya begitu memikat. Sayang, kuantitas kebersamaan mereka tidak sebanyak itu, dan kesannya, kualitas Guns Akimbo pun tidak sebagus itu.

Related Posts

Post a Comment

Subscribe Our Newsletter