“Apa kamu mau hidup keras mirip gadis-gadis biasa di luar sana?”. Demikian ucap co-founder MGM, Louis B. Mayer (Richard Cordery), di studio tempat pengambilan gambar The Wizard of Oz, sehabis Judy Garland (Darci Shaw) mengutarakan keinginannya merasakan hidup normal walau hanya sejenak. Saat itu Judy gres 14 tahun. Pikirannya dimanipulasi, kebebasannya direnggut. Semua demi studio yang ingin mengeruk laba dari kepalsuan image “girl next door” si bocah.
Kemudian kisahnya melompat lebih dari tiga dekade, tatkala karir Judy (Renée Zellweger) mencapai titik nadir, di mana dia menerima pekerjaan dengan bayaran 150 dollar, diusir dari hotel balasan telat membayar, tak punya tempat tinggal bagi kedua anaknya. Belum lagi membicarakan dilema obat-obatan yang turut menimpanya. Kita semua tahu perjalanan hidup tragis sang aktris, dan Judy, yang merupakan penyesuaian pertunjukan Broadway End of the Rainbow, menjabarkan dengan baik—meski formulaik—betapa destruktifnya tekanan di abad lalu dapat memberi dampak.
Formulaik karena naskah garapan Tom Edge tidak pernah menjauh dari pakem film biografi, tapi bisa menjelaskan secara utuh proses alasannya adalah-akhir yang membentuk kondisi psikis sang legenda. Anda akan menyaksikan begitu mengerikannya sistem industri Hollywood, khususnya di kurun golden age, di mana seorang bintang tak lebih dari properti kepunyaan studio.
Pola makan Judy diatur demi menerima memenuhi standar kecantikan. Seringkali beliau hanya boleh menenggak pil sebagai ganti kuliner. Pil itu membuatnya susah tidur, dan biar bisa memejamkan mata, Judy perlu mengonsumsi pil lain. Bertahun-tahun lalu, kesehatan Judy, baik fisik maupun mental, terkena dampaknya. Tawaran pekerjaan tak kunjung datang, sebab para pembuat film enggan menghadapinya yang kerap bermasalah (mabuk-mabukan, terlambat datang ke lokasi, dan lain-lain).
Terkecuali beberapa perjuangan bunuh dirinya, Judy menawarkan mayoritas sisi kelam protagonisnya. Semua diberikan alasan, tanpa harus menjustifikasi keburukan Judy. Poin ini paling terlihat dalam dua perdebatan terpisah antara Judy dengan suami ketiganya, Sidney Luft (Rufus Sewell) dan suami kelima sekaligus terakhirnya, Mickey Deans (Finn Wittrock). Keduanya berjanji mengembalikan periode kejayaan Judy namun sama-sama menemui kegagalan. Karenanya Judy merasa, laki-laki-pria itu cuma “menonton”, tidak berusaha cukup keras , sementara dia membanting tulang. Itu betul. Sedangkan dari sisi kedua suami, Judy pun bersalah, alasannya banyak sekali ulah Judy membuatnya tak lagi dipercaya. Itu juga betul.
Peluang menata ulang karir sempat datang kurun Judy menerima proposal rangkaian konser di Talk of the Town, London. Kecemasan pribadi menghampiri, yang membuat Judy sempat menolak naik panggung. Lagu pertama yang dibawakan yaitu By Myself. Sutradara Rupert Goold jeli mengemas momen tersebut, mengawalinya dengan close up guna menangkap ketakutan di mata Judy, sebelum risikonya menangkap kemeriahan panggung begitu suara emas sang bintang mencapai puncaknya. Judy berhasil mempersembahkan performa memukau malam itu.
Tapi apa yang kemudian dia rasakan? Kecemasan lain. Kecemasan memikirkan bisa atau tidaknya beliau tampil sebaik itu lagi. Berkat formasi flashback menuju masa-kala penuh kekangan dari MGM, kita bisa memahami penyebab di balik kondisi mental Judy. Sayangnya ketimpangan antar momen cukup terasa. Beberapa terasa Istimewa dan menyentuh hati, walau banyak juga yang sebatas numpang lewat, menyebabkan perjalanan selama hampir dua jam ini tidak selalu berhasil mencengkeram atensi.
Salah satu yang Istimewa adalah peristiwa fiktif tatkala Judy menghabiskan malam seusai konser bersama dua penggemar beratnya, pasangan gay, Dan (Andy Nyman) dan Stan (Daniel Cerqueira). Interaksi ketiganya tersaji ringan, hangat, pula menggambarkan bagaimana Judy mencintai para penggemar sekaligus menerima energi dari mereka. Apalagi Judy Garland sendiri dipandang sebagai ikon gay, bahkan dijuluki “The Elvis of homosexuals”. Beberapa pihak juga meyakini kalau bendera pelangi selaku simbol LGBT terinspirasi dari lagu Over the Rainbow.
Melalui penampilannya sebagai Judy Garland, Renée Zellweger dipercaya bakal menyabet penghargaan Aktris Terbaik di Oscars 2020 (goresan pena ini dipublikasikan sebelum pemenang diumumkan). Dan kepantasannya tak perlu diragukan. Baik di atas atau di bawah panggung, Zellweger bertransformasi seutuhnya hingga ke detail verbal, permainan mata, dan gestur-gestur seperti pergerakan tangan dan bahu. Zellweger menyanyikan sendiri lagu-lagu Garland, sehingga memfasilitasi terciptanya lisan rasa secara faktual. Filmnya memang tidak sempurna, tapi mungkin di atas sana, Judy Garland akan tersenyum bila melihat bagaimana Zellweger membawakan Over the Rainbow dalam klimaks yang sukar ditolak oleh hati.



Post a Comment
Post a Comment